Oleh: awarsono | Juli 22, 2009

Biografi : Imam Ahmad bin Hambal

Nama dan Nasab:

Kunyah beliau Abu Abdillah, namanya Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi. Ayah beliau seorang komandan pasukan di Khurasan di bawah kendali Dinasti Abbasiyah. Kakeknya mantan Gubernur Sarkhas di masa Dinasti Bani Umayyah, dan di masa Dinasti Abbasiyah menjadi da’i yang kritis.

Kelahiran Beliau:

Beliau dilahirkan di kota Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 Hijriyah. Beliau tumbuh besar di bawah asuhan kasih sayang ibunya, karena bapaknya meninggal dunia saat beliau masih berumur belia, tiga tahun. Meski beliau anak yatim, namun ibunya dengan sabar dan ulet memperhatian pendidikannya hingga beliau menjadi anak yang sangat cinta kepada ilmu dan ulama karena itulah beliau kerap menghadiri majlis ilmu di kota kelahirannya.

Awal mula Menuntut Ilmu

Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur’an hingga beliau hafal pada usia 15 tahun, beliau juga mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu beliau mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula.

Keadaan fisik beliau:

Muhammad bin ‘Abbas An-Nahwi bercerita, Saya pernah melihat Imam Ahmad bin Hambal, ternyata Badan beliau tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, wajahnya tampan, di jenggotnya masih ada yang hitam. Beliau senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai kain.
Yang lain mengatakan, “Kulitnya berwarna coklat (sawo matang)”

Keluarga beliau:

Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Beliau melahirkan dari istri-istrinya anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya.

Kecerdasan beliau:

Putranya yang bernama Shalih mengatakan, Ayahku pernah bercerita, “Husyaim meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun, kala itu saya telah hafal apa yang kudengar darinya”.

Abdullah, putranya yang lain mengatakan, Ayahku pernah menyuruhku, “Ambillah kitab mushannaf Waki’ mana saja yang kamu kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang matan nanti kuberitahu sanadnya, atau sebaliknya, kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu matannya”.

Abu Zur’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda atau Imam Ahmad bin Hambal?” Beliau menjawab, “Ahmad”. Beliau masih ditanya, “Bagaimana Anda tahu?” beliau menjawab, “Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya”. Abu Zur’ah mengatakan, “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”.

Pujian Ulama terhadap beliau:

Abu Ja’far mengatakan, “Ahmad bin Hambal manusia yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Beliau sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya”.

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al Qur’an, Imam dalam kefaqiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara’ dan Imam dalam Sunnah”.

Ibrahim Al Harbi memujinya, “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu”.

Kezuhudannya:

Beliau memakai peci yang dijahit sendiri. Dan kadang beliau keluar ke tempat kerja membawa kampak untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga beliau pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan barang lainnya lalu membawa dengan tangannya sendiri. Al Maimuni pernah berujar, “Rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil”.

Tekunnya dalam ibadah

Abdullah bin Ahmad berkata, “Bapakku mengerjakan shalat dalam sehari-semalam tiga ratus raka’at, setelah beliau sakit dan tidak mampu mengerjakan shalat seperti itu, beliau mengerjakan shalat seratus lima puluh raka’at.

Wara’ dan menjaga harga diri

Abu Isma’il At-Tirmidzi mengatakan, “Datang seorang lelaki membawa uang sebanyak sepuluh ribu (dirham) untuk beliau, namun beliau menolaknya”. Ada juga yang mengatakan, “Ada seseorang memberikan lima ratus dinar kepada Imam Ahmad namun beliau tidak mau menerimanya”. Juga pernah ada yang memberi tiga ribu dinar, namun beliau juga tidak mau menerimanya.

Tawadhu’ dengan kebaikannya:

Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin Hambal, saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada kami”.

Beliau (Imam Ahmad) mengatakan, “Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji dengan popularitas”.

Al Marrudzi berkata, “Saya belum pernah melihat orang fakir di suatu majlis yang lebih mulia kecuali di majlis Imam Ahmad, beliau perhatian terhadap orang fakir dan agak kurang perhatiannya terhadap ahli dunia (orang kaya), beliau bijak dan tidak tergesa-gesa terhadap orang fakir. Beliau sangat rendah hati, begitu tinggi ketenangannya dan sangat memuka kharismanya”.

Beliau pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?” beliau mengatakan, “Jangan begitu tetapi katakanlah, semoga Allah membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa (jasa) saya?!”

Sabar dalam menuntut ilmu

Tatkala beliau pulang dari tempat Abdurrazzaq yang berada di Yaman, ada seseorang yang melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu ia mengajak bicara, maka Imam Ahmad mengatakan, “Ini lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdirrazzak”.

Hati-hati dalam berfatwa:

Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada beliau, “Berapa hadits yang harus dikuasai oleh seseorang hingga bisa menjadi mufti? Apakah cukup seratus ribu hadits? Beliau menjawab, “Tidak cukup”. Hingga akhirnya ia berkata, “Apakah cukup lima ratus ribu hadits?” beliau menjawab. “Saya harap demikian”.

Kelurusan aqidahnya sebagai standar kebenaran

Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauruqi mengatakan, “Siapa saja yang kamu ketahui mencela Imam Ahmad maka ragukanlah agamanya”. Sufyan bin Waki’ juga berkata, “Ahmad di sisi kami adalah cobaan, barangsiapa mencela beliau maka dia adalah orang fasik”.

Masa Fitnah:

Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid dan Al Amin, bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq. Namun dia terus bersembunyi di masa khilafah Ar-Rasyid, baru setelah beliau wafat, dia menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini.

Di masa khilafah Al Ma’mun, orang-orang jahmiyyah berhasil menjadikan paham jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Qur’an makhluk, terutama para ulamanya.

Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur’an Kalamullah bukan makhluk maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara.

Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan saja. Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan, namun beliau menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits “Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab, yaitu sabda Nabi Muhammad ada yang digergaji kepalanyarkalian namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya”. HR. Bukhari 12/281. lalu beliau menegaskan, “Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja”.

Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal, kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat”.

Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, beliau masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Beliau mengatakan, “Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku, “Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia”. Maka hatiku bertambah kuat”.

Ahli hadits sekaligus juga Ahli Fiqih

Ibnu ‘Aqil berkata, “Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang bodoh yang mengatakan, “Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja. Ini adalah puncaknya kebodohan, karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, bahkan beliau lebih unggul dari seniornya”.

Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata, “Demi Allah, beliau dalam fiqih sampai derajat Laits, Malik dan Asy-Syafi’i serta Abu Yusuf. Dalam zuhud dan wara’ beliau menyamai Fudhail dan Ibrahim bin Adham, dalam hafalan beliau setara dengan Syu’bah, Yahya Al Qaththan dan Ibnul Madini. Tetapi orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya, bagaimana mungkin dia mengetahui kadar orang lain!!

Guru-guru Beliau

Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri lainnya. Di antara mereka adalah:

1. Ismail bin Ja’far
2. Abbad bin Abbad Al-Ataky
3. Umari bin Abdillah bin Khalid
4. Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami
5. Imam Asy-Syafi’i.
6. Waki’ bin Jarrah.
7. Ismail bin Ulayyah.
8. Sufyan bin ‘Uyainah
9. Abdurrazaq
10. Ibrahim bin Ma’qil.

Murid-murid Beliau:

Umumnya ahli hadits pernah belajar kepada imam Ahmad bin Hambal, dan belajar kepadanya juga ulama yang pernah menjadi gurunya, yang paling menonjol adalah:

1. Imam Bukhari.
2. Muslim
3. Abu Daud
4. Nasai
5. Tirmidzi
6. Ibnu Majah
7. Imam Asy-Syafi’i. Imam Ahmad juga pernah berguru kepadanya.
8. Putranya, Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal
9. Putranya, Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal
10. Keponakannya, Hambal bin Ishaq
11. dan lain-lainnya.

Wafat beliau:

Setelah sakit sembilan hari, beliau Rahimahullah menghembuskan nafas terakhirnya di pagi hari Jum’at bertepatan dengan tanggal dua belas Rabi’ul Awwal 241 H pada umur 77 tahun. Jenazah beliau dihadiri delapan ratus ribu pelayat lelaki dan enam puluh ribu pelayat perempuan.

Karya beliau sangat banyak, di antaranya:

1. Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadits.
2. Kitab At-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini hilang”.
3. Kitab Az-Zuhud
4. Kitab Fadhail Ahlil Bait
5. Kitab Jawabatul Qur’an
6. Kitab Al Imaan
7. Kitab Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah
8. Kitab Al Asyribah
9. Kitab Al Faraidh

Terlalu sempit lembaran kertas untuk menampung indahnya kehidupan sang Imam. Sungguh sangat terbatas ungkapan dan uraian untuk bisa memaparkan kilauan cahaya yang memancar dari kemulian jiwanya. Perjalanan hidup orang yang meneladai panutan manusia dengan sempurna, cukuplah itu sebagai cermin bagi kita, yang sering membanggakannya namun jauh darinya.

Dikumpulkan dan diterjemahkan dari kitab Siyar A’lamun Nubala
Karya Al Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah
Sumber: Majalah As Salam

Oleh: awarsono | April 13, 2009

AGAMA INI TELAH SEMPURNA

MAKTABAH AS SUNNAH
http://assunnah.cjb.net

AGAMA INI TELAH SEMPURNA
Oleh : Al Ustadz Muslim Abu Ishaq*

Kesempurnaan Islam
Islam sebagai satu-satunya agama yang dipilih oleh Allah Ta’ala sebagaimana firman-
Nya :
“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam” (Ali Imran : 19)
Merupakan kebenaran mutlak yang datang dari Allah Ta’ala dan tidak ada kebenaran
selain Islam, maka siapa yang menginginkan selain Islam berarti dia memilih
kebathilan dan dalam keadaan merugi. Allah Ta’ala berfirman :
“Apakah selain agama Allah (Islam) yang mereka inginkan, padahal hanya kepada
Allah-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi baik dengan tunduk
(taat) maupun dipaksa dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.” (Ali Imran :
83)
“Dan siapa yang menginginkan selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan
diterima darinya agama tersebut dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang
merugi.” (Ali Imran : 85)
Agama yang haq ini telah disempurnakan oleh Allah Ta’ala dalam segala segi, segala
yang dibutuhkan hamba untuk kehidupan dunia dan akhiratnya telah dijelaskan,
sehingga tidak luput satu percakapan melainkan Islam telah mengaturnya. Allah
Ta’ala berfirman :
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah
kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.”
(Al Maidah : 3)

Al Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya berkata : “Ini merupakan nikmat
Allah yang terbesar bagi ummat ini, dimana Allah telah menyempurnakan bagi
mereka agama mereka sehingga mereka tidak butuh kepada selain agama Islam dan
tidak butuh kepada Nabi selain Nabi mereka shalawatullahi wasalaamu alaihi. Karena
itulah Allah menjadikan Nabi ummat ini (Muhammad shallallahu alahi wasallam, pent.)
sebagai penutup para Nabi dan Allah mengutusnya untuk kalangan manusia dan jin,
maka tidak ada perkara yang haram kecuali apa yang dia haramkan, dan tidak ada
agama kecuali apa yang dia syariatkan. Segala sesuatu yang dia kabarkan adalah
kebenaran dan kejujuran tidak ada kedustaan padanya dan tidak ada penyuluhan.”
(Tafsir Al Quranul Adhim 3/14. Dar Al Ma’rifat)
Pernah datang seorang Yahudi kepada Umar Ibnul Khattab radhiallahu ‘anhu lalu ia
berkata : [ Wahai Amirul Mukminin! Seandainya ayat ini :
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah
Kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.”
Turun atas kami, niscaya kami akan jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari
raya. ]
Maka Umar menjawab : “Sesungguhnya aku tahu pada hari apa turun ayat tersebut,
ayat ini turun pada hari Arafah bertepatan dengan hari Jum’at.” (Riwayat Bukhari
dalam Shahih-nya nomor 45,4407,4606)
Ayat yang menunjukkan kesempurnaan Islam ini memang patut dibanggakan dan hari
turunnya patut dirayakan sebagai hari besar. Namun kita tidak perlu membuat-buat
hari raya baru karena Allah menurunkannya tepat pada hari besar yang dirayakan
oleh seluruh kaum Muslimin, yaitu hari Arafah dan hari Jum’at.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai utusan Allah Ta’ala kepada ummat ini
telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah dari Allah dengan sempurna.
Maka tidaklah beliau shallallahu alaihi wasallam wafat melainkan beliau telah
menjelaskan kepada ummatnya seluruh apa yang mereka butuhkan.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata :
“Sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam berkhutbah dihadapan kami dengan suatu
khutbah yang beliau tidak meninggalkan sedikitpun perkara yang akan berlangsung
sampai hari kiamat kecuali beliau sebutkan ilmunya … .” (Shahih Bukhari nomor
6604)
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya (juz 4 halaman 2217) dari Abu Zaid
Amr bin Akhthab radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
“Rasullullah shallallahu alaihi wasallam shalat Shubuh bersama kami.(Selesai shalat)
beliau naik ke mimbar lalu berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Dhuhur,
beliau turun dari mimbar dan shalat Dhuhur. Kemudian beliau naik lagi ke mimbar lalu
berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Ashar, kemudian beliau turun dari
mimbar dan shalat Ashar. (Setelah shalat Ashar) beliau naik ke mimbar lalu
mengkhutbahi kami hingga tenggelam matahari. Dalam khutbah tersebut beliau
mengabarkan pada kami apa yang telah berlangsung dan apa yang akan berlangsung
… .”
Bid’ah Adalah Kesesatan
Dengan kesempurnaan yang dimiliki, syariat Islam tidak lagi memerlukan
penambahan, pengurangan, ataupun perubahan, atau lebih simpelnya hal-hal ini
diistilahkan bid’ah dalam agama yang telah diperingatkan dengan keras oleh
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau :
“Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah ucapan Allah dan sebaik-baik ajaran
adalah ajaran Rasulullah. Dan sesungguhnya sejelek-jelek perkara adalah sesuatu
yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya sesuatu yang baru diadaadakan
(dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR.
Muslim no. 867)

Mengapa Bid’ah Dan Pembuatnya Dikatakan Sesat ?
Karena, pertama, bisa jadi pembuat bid’ah itu menganggap ajaran agama ini belum
sempurna hingga perlu penyempurnaan dari hasil pemikiran manusia. Dengan
anggapan demikian berarti ia mendustakan firman Allah Ta’ala yang memberikan
kesempurnaan agama ini.
Kedua, bisa jadi ia menganggap agama ini telah sempurna, namun ada perkara yang
belum disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang berarti ia
menuduh beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah berkhianat dalam penyampaian
risalah. Padahal para shahabat seperti Abu Dzar radliallahu anhu mempersaksikan :
“Rasulullah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang
mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan ilmunya
pada kami.”
Abu Dzar kemudian berkata :
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Tidaklah tertinggal sesuatu yang
dapat mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka kecuali telah diterangkan
pada kalian.” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, lihat As Shahihah karya
Syaikh Albani rahimahullah 4/416 dan hadits ini memiliki pendukung dari
riwayat lain)
Imam Malik rahimahullah berkata :
Barangsiapa yang mengada-adakan dalam Islam sesuatu kebid’ahan dan
menganggapnya baik berarti ia telah menuduh Rasulullah telah berkhianat dalam
menyampaikan risalah. Karena Allah telah berfirman : “Pada hari ini telah Aku
sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Maka apa yang waktu itu (pada masa
Rasulullah dan para shahabat beliau) bukan bagian dari agama, (maka) pada hari ini
pun bukan bagian dari agama.” (Lihat Al I’tisham oleh Imam Syathibi halaman
37)
Ketiga, bisa jadi pembuat bid’ah itu menganggap dirinya lebih berilmu dibanding
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga dia tahu ada amalan baik yang tidak
diketahui dan tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Apakah Teranggap Niat Baik Seseorang Ketika Berbuat Bid’ah ?
Bagaimana bila ada orang yang berkata bahwa ia membuat-buat amalan bid’ah atau
mengerjakannya dengan niat yang baik dan ikhlas karena Allah ? Maka dijawab
bahwa syarat diterimanya suatu amalan tidaklah sekedar niat baik atau ikhlas, namun
juga harus dibarengi dengan Mutaba’ah Ar Rasul (mengikuti Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam), adakah contohnya dari beliau atau tidak.
Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala (yang artinya) :
“Maka siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah dia
melakukan amal shalih dan janganlah dia menyekutukan Rabb-nya dengan seorang
pun dalam peribadatan kepada-Nya.” (QS. Al Kahfi : 10)
Beliau rahimahullah berkata : [ Firman Allah : ” … hendaklah ia melakukan amal
shalih … .” Yang cocok/sesuai dengan syariat Allah. Dan firman-Nya : ” … dan
janganlah dia menyekutukan Rabb-nya dengan seorang pun dalam peribadatan
kepada-Nya.” Yang diinginkan dalam beribadah tersebut adalah wajah Allah saja
tanpa menyekutukan-Nya. Dua rukun diterimanya amalan adalah (pertama) harus
dilakukan ikhlas karena Allah dan (kedua) amalan tersebut benar dan sesuai dengan
syariat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/114) ]

Terhadap firman Allah Ta’ala : “Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan
agar Dia menguji kalian siapa yang paling baik di antara kalian amalannya.” (QS. Al
Mulk : 2)
Al Fudlail bin Iyadl rahimahullah berkata : “Amalan yang paling baik adalah amalan
yang paling ikhlas dan paling benar/tetap. Karena amalan yang hanya disertai
keikhlasan namun tidak benar maka amalan itu tidak diterima. Dan sebaliknya, bila
amalan itu benar namun tidak dibarengi keikhlasan juga tidak akan diterima.”
Pernah datang tiga orang shahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam ke rumah istri-istri
beliau guna menanyakan tentang ibadah beliau. Tatkala diberitahukan kepada
mereka, mereka menganggapnya kecil dan mereka berkata :
“Apa kedudukan kita dibanding Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau telah diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu dan yang belakangan.” Berkata salah seorang dari
mereka : “Aku akan shalat sepanjang malam tanpa tidur selamanya.” Yang kedua
berkata : “Aku akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka.” Yang
terakhir berkata : “Aku akan menjauhi wanita maka aku tidak akan menikah
selamanya.” Lalu datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ucapan-ucapan
mereka disampaikan kepada beliau, maka beliau bersabda : “Apakah kalian yang
mengatakan begini dan begitu ?! Ketahuilah! Demi Allah, aku adalah orang yang
paling takut kepada Allah dibanding kalian dan paling bertakwa kepada-Nya, akan
tetapi aku puasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku tidur, dan aku juga menikahi
wanita. Siapa yang benci (berpaling) terhadap sunnahku maka ia bukan dari
golonganku (orang-orang yang menjalankan sunnahku).” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Kalau kita lihat keberadaan tiga orang ini maka kita dapatkan niatan mereka yang
baik yaitu untuk bersungguh-sungguh melakukan ibadah kepada Allah, namun apakah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyetujui perbuatan mereka? Jawabannya
bisa kita lihat dari pernyataan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.
Benar sekali apa yang diucapkan oleh shahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud
radhiyallahu anhu : “Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguhsungguh
dalam perbuatan bid’ah.”
Orang-orang yang mengadakan bid’ah itu walaupun niatnya baik tetap tertolak
dengan dalil hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam :
“Siapa yang mengada-adakan sesuatu amalan di dalam urusan (agama) kami ini
dengan yang bukan bagian dari agama ini maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari
dan Muslim dalam Shahih keduanya)
Dan beliau bersabda :
“Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka
amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)
Karena itu yang wajib bagi kaum Muslimin adalah mencukupkan diri dengan ibadahibadah
yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tanpa menambah ataupun
menguranginya.
Adakah Bid’ah Hasanah ?
Tidak ada dalam agama ini istilah pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah (bid’ah
yang baik) dan bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang jelek) karena Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam telah menegaskan :
“Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. Muslim
dalam Shahih-nya, sedang tambahannya diriwayatkan dalam Sunan Nasa’i)
Lalu bagaimana dengan ucapan Umar radhiallahu anhu ketika melihat pelaksanaan
shalat tarawih secara berjama’ah : “Sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini.”
(Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya)
Maka kita katakan bahwa yang dimaukan oleh Umar dengan ucapannya tersebut
adalah pengertian bid’ah secara bahasa, bukan secara syari’at, karena Umar
mengucapkan perkataan demikian sehubungan dengan berkumpulnya manusia
dibawah satu imam dalam pelaksanaan shalat tarawih, sementara shalat tarawih
secara berjama’ah telah disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
dimana beliau sempat mengerjakannya selama beberapa malam secara berjama’ah
dengan para shahabatnya, kemudian beliau tinggalkan karena khawatir hal itu
diwajibkan atas mereka. Sehingga setelah itu manusia mengerjakan tarawih secara
sendiri-sendiri atau dengan jama’ah yang terpisah-pisah (berbilang/berkelompokkelompok).
Lalu pada masa pemerintahannya Umar radhiallahu ‘anhu, Umar radhiallahu ‘anhu
mengumpulkan mereka dibawah pimpinan satu imam sebagaimana pernah dilakukan
di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, karena wahyu telah berhenti turun
dengan meninggalnya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan berarti tidak ada lagi
kekhawatiran diwajibkannya perkara tersebut. Dengan demikian Umar radhiallahu
‘anhu menghidupkan kembali sunnah tarawih secara berjama’ah dan ia
mengembalikan sesuatu yang sempat terputus, maka teranggaplah perbuatannya
tersebut sebagai bid’ah dalam pengertian bahasa, bukan pengertian syari’at,
karena bid’ah yang syar’i hukumnya haram, tidak mungkin Umar radhiallahu ‘anhu
ataupun selainnya dari kalangan shahabat melakukan hal tersebut, sementara mereka
tahu peringatan keras dari Nabi radhiallahu ‘anhu akan perbuatan bid’ah. (Dzahirut
Tabdi’, halaman 43-44)
Adapun di masa Abu Bakar radiallahu anhu, sunnah tarawih secara berjama’ah ini
tidak sempat dihidupkan karena khilafah beliau hanya sebentar dan ketika itu beliau
disibukkan dengan orang-orang yang murtad dan enggan membayar zakat, demikian
keterangan Imam Syathibi dalam kitabnya Al I’tisham, wallahu a’lam.
Semoga Allah merahmati shahabat Nabi, Abdullah Bin Umar radiallahu anhuma yang
berkata :
“Setiap bid’ah adalah sesat sekalipun manusia memandangnya baik.”
Hukum Membuat Bid’ah Dalam Agama
Hukum membuat bid’ah dalam agama adalah haram berdasarkan Al Qur’an, As
Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan ulama), karena membuat bid’ah berarti menetapkan
syariat yang menyaingi syariat Allah, yang berarti menentang dan mengadakan
permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya. (Hurmatul Ibtida’ fid Dien wa Kullu
Bid’atin Dlalalah, Abu Bakar Jabir Al Jazairi, halaman 8)
Contoh Bid’ah Dalam Hari Raya/Hari Besar Yang Disandarkan
Kepada Islam
Dalam syariat agama yang mulia ini hanya dikenal adanya dua hari raya/ied,
sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu :
Nabi shallallahu alaihi wasallam datang ke Madinah dan ketika itu penduduk Madinah
memiliki dua hari raya yang mereka bisa bersenang-senang di dalamnya pada masa
jahiliyyah, maka beliau bersabda : “Aku datang pada kalian dalam keadaan kalian
memiliki dua hari raya yang kalian bersenang-senang di dalamnya pada masa
jahiliyyah. Dan sungguh Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari tersebut
dengan yang lebih baik yaitu hari Nahr (Iedul Adha) dan Iedul Fitri.” (HR Ahmad,
Abu Daud, Nasa’i dan Baghawi)
Iedul Adha dan Iedul Fitri lebih baik daripada dua hari raya yang dimiliki penduduk
Madinah karena Iedul Adha dan Iedul Fitri ditetapkan dengan syariat Allah yang
dipilih-Nya untuk hamba-Nya dan kedua hari raya tersebut mengiringi dua amalan
besar dalam Islam yaitu haji dan puasa. Sedangkan hari Nairuz dan Mahrajan
ditetapkan dengan pilihan manusia. (Ahkamul Iedain fis Sunnatil Muthahharah,
halaman15-16)

Apabila kita telah mengetahui bahwa hari raya dalam Islam hanya ada dua, maka
selain dari dua hari raya ini adalah hari raya yang diada-adakan (bid’ah), kemudian
dinisbahkan kepada agama. Contohnya seperti :
– Isra’ Mi’raj. Perayaan ini meniru perayaan Paskah (kenaikan Isa Al Masih) umat
Nashrani, padahal kita dilarang meniru orang-orang kafir, Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam sendiri memperingatkan : “Siapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia
termasuk golongan kaum tersebut.”
– Perayaan Nuzul Qur’an
– Perayaan tahun baru Islam 1 Muharram, yang meniru perayaan tahun baru
Masehi.
– Maulid Nabi, yang meniru Nashrani dalam perayaan Natal.
– Dan lain-lain.
Bila ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang mengadakan dan merayakan
perayaan seperti Maulid Nabi adalah karena cinta kepada Nabi shallallahu alaihi
wasallam dan mengagungkan beliau, maka kita jawab bahwa para shahabat Nabi
shallallahu alaihi wasallam dan generasi terbaik setelah mereka (generasi Salafus
Shalih) tidak pernah melakukan hal tersebut, padahal mereka adalah orang-orang
yang tidak diragukan kecintaanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan
tidak disangsikan pengagungan mereka kepada beliau, serta mereka adalah orangorang
yang sangat bersemangat untuk melakukan amalan kebajikan. Seandainya
perayaan Maulid itu baik, niscaya mereka adalah orang pertama yang melakukannya.
Dan demikian yang kita katakan terhadap setiap amalan yang diada-adakan dalam
agama ini. Seandainya amalan itu baik maka para pendahulu kita yang shalih
tentunya telah mendahului kita dalam mengamalkannya.
Ketahuilah, pernyataan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukan
diwujudkan dengan mengadakan perayaan seperti Maulid, namun bukti cinta kepada
beliau diwujudkan (dibuktikan) dengan mengikuti beliau, menaati, mengikuti
perintahnya, menghidupkan sunnahnya baik secara lahir maupun batin, menyebarkan
dakwah beliau, berjihad untuk menegakkan dakwah baik dengan hati, lisan, maupun
anggota badan. Inilah jalan yang ditempuh oleh As Sabiqunal Awwaluna dari
kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Jalan Keluar Dari Kebid’ahan
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan dalam banyak haditsnya jalan
keluar dari kebid’ahan jauh sebelum terjadinya bid’ah. Beliau bersabda :
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalau kalian berpegang teguh
dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku selamanya, yaitu
Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Hakim dan dishahihkan dalam Shahihul Jami’
oleh Syaikh Albani rahimahullah)
Beliau juga menasehatkan :
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk takwa kepada Allah Azza wa Jalla, taat dan
mendengar sekalipun kalian dipimpim oleh seorang hamba sahaya karena siapa saja
diantara kalian yang hidup sepeninggalku niscaya dia akan melihat perselisihan yang
banyak. Maka (ketika itu) wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan
sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah dengan gigi
gerahammu dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru karena setiap
yang bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata hadits hasan
shahih)
Satu-satunya jalan menyelamatkan diri dari bid’ah adalah berpegang teguh pada
dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta
Petunjuk Salafus Shalih, pemahaman mereka, manhaj mereka, dan pengamalan
mereka terhadap dua wahyu, karena mereka adalah orang yang paling besar cintanya
kepada Allah dan Rasul-Nya, paling kuat ittiba’-nya, paling dalam ilmunya dan paling
luas pemahamannya terhadap Al Qur’an dan As Sunnah.
Dengan cara ini seorang Muslim akan mampu berpegang teguh dengan agamanya
dan bebas dari segala kotoran yang mencemari dan jauh dari semua kebid’ahan yang
menyesatkan. Dan jalan ini mudah bagi yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Wallahu a’lam bishawwab.

* Penulis adalah staf pengajar Ponpes Ihya’us Sunnah DIY, murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’y
rahimahullah, Yaman.

Oleh: awarsono | Maret 31, 2009

Tips Menjadi Pembicara yang Berpengaruh

Apa Saja Yang Mempengaruhi Manusia?

Saya akan sampaikan kepada Anda mengenai teori Meharabien bahwa kata-kata tidak memiliki makna kecuali yang kita berikan kepadanya. Energi dari kata-kata bukan sekedar berasal dari kata-kata itu sendiri melainkan dari cara mengatakannya dan terutama dari yang mengatakannya.

Mari kita simak teori 3 V yang diilhami dari Meharabien. V pertama adalah Verbal, V kedua adalah Vocal dan V ketiga adalah Visual. Dalam teknik mempengaruhi orang lain ternyata hanya 7% pengaruh verbal atau lisan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kemudian 38% dipengaruhi oleh vocal dari verbal yang diucapkan. Pengaruh vocal maksudnya adanya pengaruh nada, suara, tekanan, ataupun intonasi dari kata-kata yang diucapkan. Dan 55% dipengaruhi oleh visual. Visual atau Uswah inilah yang memberikan makna paling banyak dari kata-kata yang kita ucapkan.

Maka tak heran ketika seseorang mengajak Anda “untuk menjadi pemberani” tetapi orang yang mengajak tersebut nyata-nyata sebagai si penakut maka Anda tidak akan respek dengan orang yang mengajak tersebut. Sebab secara visual Anda melihatnya sebagai penakut.

Walaupun verbalnya baik, bahkan diiringi oleh teknik mengajak yang juga baik, namun jika secara visual emosi Anda tak terpenuhi maka wajar ketika Anda merasa tak wajar. Itu pula yang terjadi ketika Anda berdakwah tentang Islam kepada lingkungan Anda, namun Anda tidak mengiringinya dengan contoh nyata, apalagi kalau dakwah yang Anda lakukan tidak diikuti oleh teknik vocal berdakwah yang mumpuni maka jangan sekali-kali menyalahkan Allah jika dakwah Anda belum sukses. “Ya, mungkin sudah takdir…orang-orang di sini boro-boro disuruh ke masjid, ga pada main judi saja sudah bagus…!”

Perhatikan firman Allah dalam Q.S.Al-Ahzab : 21 “Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Untuk memenuhi kriteria berdakwah yang baik maka, “Contoh” atau Suri Tauladan adalah senjata yang paling ampuh. Buatlah citra positif tentang diri Anda di pandangan masyarakat. Rosulullah pun yang sudah nyata-nyata al-amin (dipercaya) masih saja banyak yang menolak kebenaran seruannya.

Lalu bandingkan dengan kita, yang masih banyak bolongnya dalam beribadah, yang masih sering malas dan kurang ikhlas dalam beribadah, yang masih sering berprasangka, maka satu-satunya jalan yang paling efektif adalah Anda harus menjadi sosok yang memiliki citra positif dalam pergaulan di masyarakat.

Jika citra positif itu telah hadir, maka apa yang Anda katakan akan lebih bermakna bagi yang mendengar, dan juga tentunya bagi Anda sendiri. Bayangkan pertentangan yang terjadi antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar, apabila pikiran sadar mengatakan kepada khalayak, “Saudaraku, mari kita rajin bersedakah, karena bersedekah itu mendekatkan diri Anda kepada Allah dan kepada hamba-hamba-Nya!”

Nah, jika Anda termasuk yang jarang bersedekah maka pikiran bawah sadar Anda akan menolaknya. Dan cahaya penolakan tersebut bisa terpancar lewat wajah Anda. Perlu diketahui, jika pikiran sadar dan pikiran bawah sadar bertentangan maka pikiran bawah sadar Anda akan menang, bahkan semakin ditentang maka kemenangannya semakin telak.

Akhirnya, inilah beberapa Tips Menjadi Pembicara Berpengaruh

1. Taklukkan 100% rasa grogi dengan : 25% persiapan materi, 50% latihan langsung di depan audience atau cermin, 10% persiapan mental, 15% melalui pernafasan yang dalam. Bernafas yang dalam, gunakan konsep 615: 6 hitunagan ditarik…1 ditahan…. 5 hitungan hembuskan perlahan

2. Periksa mike dan sound system apakah dalam kondisi yang baik. Apabila mike suaranya putus-putus, maka sebaiknya mike diganti atau tidak perlu digunakan.

3. Sebaiknya masuk dari sisi kiri, agar audien melihat Anda pertama kali dengan otak kanan

4. Optimalkan sikap tubuh : tampak percaya diri, antusias, dan tersenyum.

5. Berdirilah, kalau mau duduk cukup hanya sesekali di saat-saat tertentu. Misal di saat-saat penayangan potongan film di layar lewat infokus. Yang paling penting, ketika pertama kali masuk kelas dilarang kelas untuk langsung duduk, boleh duduk hanya ketika telah menyapa audien dan melakukan pembukaan atau ice breaking

6. Buka dengan sugesti positif, seperti “Luar biasa, alhamdulillah hari ini saya sangat berbahagia bertemu dengan Anda…dst, jangan pernah katakan, “maaf, karena tadi malam saya menyiapkan slide sampai malam, jadi sekarang agak flu dan sakit…dst”…nanti bisa2 peserta juga jadi ikut saki tuh🙂

7. Ice breaking : Buka dengan ilustarasi yang menyenangkan : lelucon, atau simulasi, atau visualisasi potongan film dan iklan.

8. Jalin hubungan : Kontak mata, nyatakan perhatian Anda. Ketika Anda menjaling hubungan dengan beberapa orang peserta maka semua peserta bisa merasa akrab dengan Anda. Jangan pura-pura melihat peserta…apalagi melihat jauh ke belakang membuang kegugupan. Dan jangan pernah menganggap peserta/audien sebagai patung.

9. Telapak tangan terbuka ke depan : Tidak menunjuk, sesekali mengepal tidak masalah; sebagai unjuk energi semangat Anda.

10. Berbisik, rendahkan suara Anda pada kata-kata kunci.

11. JEDA, segera mengumpulkan energi perhatian

12. Sampaikan cerita hikmah yang menggugah, nyata atau pun fiksi.

13. Lakukan simulasi masal, melibatkan seluruh peserta

14. Permainkan intonasi kata : Tinggi…rendah…tinggi…sedang…dsb. Intinya, buatlah gelombang intonasi yang menarik dan menggugah.

15. Bergeraklah, tidak hanya terpaku diam di depan. Bergerak : ke samping kiri, kanan. Bergeraklah ke belakang. Bergeraklah memutar. Jaga stamina Anda.

16. Kalau Anda memiliki suara yang tidak jelek (walaupun tidak begitu bagus –pen), berikan nyanyian yang modif mencerahkan buat mereka.

17. Sampaikan beberapa rujukan pendukung seperti : Ayat, Hadist, Atsar, atau ungkapan-ungkapan bijak yang bersesuaian dengan materi.

18. Raihlah beberapa nama peserta, sebelum, di saat, dan setelah acara berlangsung.

19. Beri kesempatan beberapa peserta berbicara

20. Beri kesimpulan yang terindah dan dikenang. Bisa dengan : Kontemplasi, atau dengan cerita, baik cerita lucu atau pun cerita menggugah

21. Tutup dengan sugesti positif, seperti pernyataan, “alhamdulillah, saya berbahagia telah bertemu Anda hari ini..yakinlah sepenuh hati bahwa…dst…”

Penulis : Zen El Fuad

Oleh: awarsono | Maret 18, 2009

Islami Ya Quds

Munsyid : Shoutul Harokah
http://liriknasyid.com

Islami ya qudsu inna lil fida’

Zi yadii in maaddatid-dunya yada
Abadan kan taskiini abada
Innai arju ma’a yaumi ghada

Islami ya qudsu inna lil fida’
Zi yadii in maaddatid-dunya yada
Abadan kan taskiini abada
Innai arju ma’a yaumi ghada

Huwa ma’ie qalbi wa ‘azmi lil-jihad
La amiilu la amallu la aliin

Huwa ma’ie qalbi wa ‘azmi lil-jihad
La amiilu la amallu la aliin

Laki ya…qudsu salaama wa salaaman ya bilaadii
In rama…baghyus-sihaama
Attaqiiha bi fuaadii
Waslami fii kulli hiin (x2)

Muslimun ana banaani man bana
Masjidal aqsal-lazi ayantana
Waqfatus-sokhrati fiima bainana
Bi wuquufid-dahri waqfati ana

Muslimun ana banaani man bana
Masjidal aqsal-lazi ayantana
Waqfatus-sokhrati fiima bainana
Bi wuquufid-dahri waqfati ana

Lilkifaahi wal jihadi lil bilad
La amiilu la amallu la alin

Lilkifaahi wal jihadi lil bilad
La amiilu la amallu la alin

Laki ya…qudsu salaama wa salaaman ya bilaadii
In rama…baghyus-sihaama
Attaqiiha bi fuaadii
Waslami fii kulli hiin (x2)

Islami ya qudsu inna lil fida’
Zi yadii in maaddatid-dunya yada
Abadan kan taskiini abada
Innai arju ma’a yaumi ghada

Huwa ma’ie qalbi wa ‘azmi lil-jihad
La amiilu la amallu la aliin

Huwa ma’ie qalbi wa ‘azmi lil-jihad
La amiilu la amallu la aliin

Lil ulaa abna’al-qudsi lil ulaa
Wa bi qudsi syarri fil-mustaqbala
Wa fidalli qudsi lid-dunya falaa
Ado’ul islami lillah awwala

Lil ulaa abna’al-qudsi lil ulaa
Wa bi qudsi syarri fil-mustaqbala
Wa fidalli qudsi lid-dunya falaa
Ado’ul islami lillah awwala

Jaanibal aisaaru qalbuhul fu’aad
Wa bilaadi hiya bi janbil-yamin

Jaanibal aisaaru qalbuhul fu’aad
Wa bilaadi hiya bi janbil-yamin

Laki ya…qudsu salaama wa salaaman ya bilaadii
In rama…baghyus-sihaama
Attaqiiha bi fuaadii
Waslami fii kulli hiin (x2)

Oleh: awarsono | Februari 24, 2009

Palestina Tercinta

Album : Tak Kenal HENTI !!!
Munsyid : Shoutul Harokah
http://liriknasyid.com

Untukmu jiwa-jiwa kami
Untukmu darah kami
Untukmu jiwa dan darah kami
Wahai Al-Aqsho tercinta

Untukmu jiwa-jiwa kami
Untukmu darah kami
Untukmu jiwa dan darah kami
Wahai Al-Aqsho tercinta

Kami akan berjuang
Demi kebangkitan Islam
Kami rela berkorban
Demi Islam yang mulia

Untukmu, Palestina tercinta
Kami penuhi panggilanmu
Untukmu, Al-Aqsho yang mulia
Kami kan terus bersamamu

Untukmu, Palestina tercinta
Kami penuhi panggilanmu
Untukmu, Al-Aqsho yang mulia
Kami kan terus bersamamu

A aa aaaa
A aaa aaa
A aaa aaaa a a a aa
A aa aaaa
A aaa aaa
A aaa aaaa a a a aa

Kami akan berjuang
Demi kebangkitan Islam
Kami rela berkorban
Demi Islam yang mulia

Untukmu, Palestina tercinta
Kami penuhi panggilanmu
Untukmu, Al-Aqsho yang mulia
Kami kan terus bersamamu

Untukmu, Palestina tercinta
Kami penuhi panggilanmu
Untukmu, Al-Aqsho yang mulia
Kami kan terus bersamamu

Untukmu jiwa-jiwa kami
Untukmu darah kami
Untukmu jiwa dan darah kami
Wahai Al-Aqsho tercinta

Ya Robbi, izinkanlah kami
Berjihad di Palestinamu
Ya Alloh, masukkanlah kami
Tercatat sebagai syuhadamu

Ya Robbi, izinkanlah kami
Berjihad di Palestinamu
Ya Alloh, masukkanlah kami
Tercatat sebagai syuhadamu
Tercatat sebagai syuhadamu
Tercatat sebagai syuhadamuuu

Oleh: awarsono | Januari 21, 2009

Perang 23 Hari, 1310 Gugur, 100 Tertimpa di Reruntuha

Monday, 19 January 2009

Image

Gaza: Tim medis Palestina sesaat setelah Israel memutuskan gencatan senjata, hingga siang kemarin Ahad (18/1) menemukan sekitar 100 mayat sehingga total korban gugur dalam genosida Israel selama 23 hari mencapai 1310 orang.

Dr. Muawiyah Hasanain, ketua UGD di Depkes Palestina menegaskan puluhan korban gugur di sejumlah wilayah berbeda di Jalur Gaza belum bisa dievakuasi oleh tim medis terutama di gedung-gedung yang menjadi sasaran brutalisme Israel. Dijadwalkan hari ini akan dilakukan upaya bongkar gedung-gedung itu setelah koordinasi dengan Israel agar tim medis bisa masuk wilayah itu.

Dr. Hasanain menegaskan bahwa korban syahid mencapai lebih dari 1310 orang, 417 adalah korban anak-anak, 108 waniita, 120 kakek dan nenek, 14 tim medis, 4 wartawan dan lima warga asing. Sementara korban luka meningkat menjadi 5450 hingga sekarang.

Padamedis yang terlibat dalam evakuasi jasad korban menegaskan mereka merinding menyaksikan korban tubuh korban yang mayoritas tercabik-cabik, sebagian jasad sudah membusuk. Namun kebanyakan korban adalah anak-anak dan wanita yang tinggal di rumah pada saat mereka dibom.
Jasad korban yang sudah dikubur adalah yang sudah dilakukan identifikasi di RS yang ada. Kebanyakan diidentifikasi oleh keluarga korban. (Sumber: InfoPalestina)

Oleh: awarsono | Desember 8, 2008

Subhanallah, Bahagianya Menjadi Muslimah …!

Dirinya…

Tetesan embun yang mengikis batuan

Hembusan angin yang memberi kesejukan

Mata air pelega kehausan

Indah bunga surga tak seindah dirinya

Halus jaring sutra tak sehalus hatinya

Tahukah kau siapa dirinya?

Dialah wanita

Wanita adalah makhluk yang tercipta penuh dengan kelembutan, kasih sayang, serta makhluk pemilik keanggunan. Allah telah menciptakan wanita dari tulang rusuk pria, yang begitu dekat dengan hati dan juga berdekatan dengan lengan, sehingga wanita begitu mudah dicintai dan juga selalu dalam perlindungan. Cinta dan perlindungan, inilah hal yang sepatutnya diperoleh seorang wanita dan menjadi hak yang amat dasar. Akan tetapi, seringkali hak ini tidak didapatkan oleh kaum wanita dan justru sebaliknya, yang diperoleh adalah sikap kasar dan perlakuan yang tidak adil.

Dari masa ke masa, perlakuan yang diskriminatif dan nasib yang memilukan dialami oleh kaum wanita. Sebelum kedatangan Islam, hampir semua bangsa dan agama menghinakan kaum wanita. Kalangan Yahudi menganggap wanita sebagai pembawa kesialan dan dosa karena telah menggelincirkan nabi Adam. Kaum Nasrani menganggap wanita sebagai sumber kejahatan, sehingga para pendeta tidak boleh menikah. Masyarakat Hindu bahkan menganggap bahwa wanita yang ditinggal mati suaminya tidak mempunyai hak untuk hidup lagi, sehingga ia harus ikut membakar diri bersama jenazah sang suami. Masyarakat Eropa juga tidak mau kalah dalam menghinakan wanita. Pada masa Henry VIII, parlemen Inggris membuat peraturan yang melarang wanita membaca Perjanjian Baru (Bible) karena wanita dianggap najis. Tahun 586 M, diadakan konferensi di Perancis yang hasilnya menetapkan bahwa wanita termasuk manusia tetapi diciptakan sebagai pelayan kaum pria. Alangkah menyesakkan dada ketika kita melihat fakta ini, dimana status wanita sebagia manusia pun masih dipertanyakan dan dibahas dalam sebuah konferensi. Padahal, tidak satu manusia pun di muka bumi yang tidak lahir dari rahim seorang wanita terkecuali Nabi Adam.

Dari rahimnya Kau lahir

Dari air susunya Kau hidup

Dengan belaiannya Kau tumbuh

Lalu, beginikah caramu membalas?

Hingga lahirlah seorang manusia mulia yang membawa ajaran mulia, di tanah Arab. Pada masa itu, masyarakat di tempat ini pun tidak lebih baik dalam memperlakukan wanita. Wanita dianggap sebagai makhluk yang hina dan membawa aib. Apabila lahir seorang anak perempuan dalam keluarga mereka, maka merah padamlah wajah mereka. Bahkan karena begitu malunya, seringkali anak perempuan yang lahir tersebut dikubur hidup-hidup. Islam, yang disampaikan oleh Nabi Muhammad membawa perubahan yang dahsyat.

Islam sangat memuliakan kaum wanita. Islam menegaskan eksistensi wanita sebagai manusia dan persamaan hak kemanusiaan yang dimiliki wanita. Bahkan, an-Nisaa yang berarti wanita diabadikan sebagai nama surah dalam Al-Qur’an. Perintah Allah kepada para suami untuk memperlakukan istri secara baik juga tertuang dalam Al-Qur’an surah an-Nisaa ayat 19.

Hingga saat ini, hanya Islamlah yang menempatkan wanita pada martabat yang terhormat dan memberikan perlindungan bagi wanita. Namun, perlindungan dan kemuliaan yang diberikan oleh Islam kepada wanita kini tidak dapat diterima oleh segolongan perempuan yang menyebut diri mereka sebagai pejuang dan pembela hak-hak kaum perempuan, yaitu kalangan feminis. Sejarah feminisme terkait dengan perjuangan wanita Barat dalam menuntut kebebasannya, karena pada abad pertengahan perempuan tidak mendapatkan tempat di tengah masyarakat. Perempuan pada masa itu dianggap memiliki derajat yang rendah, sehingga tidak diperkenankan untuk mengurus apapun dan memiliki sesuatu. Sampai akhirnya pada era renaisance yang diikuti dengan terjadinya revolusi Inggris dan Perancis, terjadilah pemberontakan secara besar-besaran oleh orang-orang yang merasa diperlakukan sewenang-wenang, termasuk di dalamnya adalah kaum perempuan.

Feminisme berlanjut hingga saat ini dengan tuntutan yang semakin meluas, yaitu kebebasan, persamaan dan kesetaraan jender. Mereka menuntut adanya persamaan antara pria dan wanita serta kebebasan memilih peran di tengah keluarga dan masyarakat, serta partisipasi dalam semua aktivitas di semua level dan bidang. Kaum feminis mulai menuntut persamaan secara mutlak dengan kaum laki-laki termasuk dalam urusan kebebasan hubungan seksual tanpa perkawinan, kebebasan memilih peran dan tugas dalam keluarga, melaksanakan segala keinginannya tanpa ada batasan dan tolak ukur yang pasti.

Berbagai tudingan dan pernyataan yang menyudutkan Islam mereka lontarkan. Mereka menyatakan bahwa Islam tidak berpihak pada wanita dan membelenggu wanita dengan berbagai aturan. Islam membebani wanita dengan berbagai kewajiban, serta menempatkan wanita di bawah derajat kaum lelaki. Islam memenjarakan wanita. Masih banyak lagi tuduhan yang mereka lemparkan kepada Islam. Sungguh, mereka mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak mereka ketahui.

Dalam majalah Fatawa Vol.III/No.4 (Maret 2007) termuat sebuah artikel yang berjudul “Susah Jadi Wanita Muslimah?”. Artikel tersebut membahas tentang alasan-alasan yang dijadikan oleh kaum feminis sebagai tameng untuk menentang ajaran Islam, sekaligus semua jawaban yang mementahkan argumentasi mereka. Berikut ini saya cantumkan ringkasan isi dari artikel tersebut.

Kaum feminis mangatakan bahwa sangat susah menjadi muslimah, diperlakukan tidak adil dan banyak aturannya. Lihat saja peraturan dibawah ini :

1. Muslimah, auratnya lebih susah dijaga daripada pria

2. Muslimah, perlu meminta ijin dari suaminya jika hendak keluar rumah tetapi tidak sebaliknya

3. Muslimah, haknya sebagai saksi lebih kecil daripada pria

4. Muslimah, menerima harta warisan lebih kecil daripada pria

5. Muslimah, harus menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak

6. Muslimah, wajib taat kepada suaminya tetapi suami tidak wajib taat pada istrinya

7. Muslimah, talaknya terletak di tangan suami dan bukan padanya

8. Muslimah, kurang dalam beribadah karena masalah haid dan nifas yang tak ada pada pria.

Tetapi, pernahkah kita lihat kenyataan dibalik itu??

1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan disimpan di tempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiarkan berserakan di sembarang tempat bukan?Itulah ibaratnya seorang Muslimah..

2. Muslimah wajib taat kepada suami, tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya tiga kali lebih utama dari bapaknya, bukankah ibu adalah seorang wanita?

3. Muslimah menerima harta warisan lebih sedikit dari lelaki, tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya. Sedangkan lelaki, perlu menggunakan hartanya untuk istri dan anak-anaknya.

4. Muslimah bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat, dan seluruh makhluk Allah di muka bumi ini, dan jika matinya karena melahirkan maka syahidlah ia.

5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan bertanggungjawab atas empat wanita: istrinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.

6. Seorang wanita, tanggung jawab dibebankan kepada empat orang lelaki: suaminya,ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

7. Seorang wanita boleh memasuki pintu surga yang disukainya cukup dengan empat syarat saja:

-Shalat lima waktu

-Puasa di bulan Ramadhan

-Taat pada suaminya

-Menjaga kehormatannya

8. Seorang lelaki perlu pergi berjuang di jalanAllah, tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggung jawabnya kepada Allah, akan turut menerima pahala seperti pahala orang yang pergi berjuang di jalan Allah, tanpa perlu mengangkat senjata.

Subhanallah, rasanya tak ada lagi kata-kata yang perlu saya tambahkan untuk menepis semua tudingan dari golongan feminis. Kebebasan tak terbatas yang ditawarkan feminisme pada akhirnya akan membawa manusia kepada kebobrokan dan kehancuran. Akibat yang telah dapat kita saksikan pada masa sekarang ini antara lain: merebaknya free sex, pelecehan seksual, anak-anak bermasalah, dan masih banyak lagi. Sebaliknya, seorang muslimah sangat patut untuk bergembira, karena ia begitu terjaga. Apapun yang telah Allah tetapkan bagi muslimah, tidak lain hanyalah untuk kebaikan dirinya sendiri dan sebagai bentuk kasih sayang serta perlindungan Allah kepada kita kaum wanita.

Akulah wanita

yang paling bahagia

karena Aku begitu berharga

dan begitu dicinta

Aku tak perlu berlomba

berhias diri dan menebar pesona

kepada lelaki buaya

Cantikku adalah taqwa

bukan bergaya menggoda

Indahku adalah akhlak mulia

bukan berbusana terbuka

Aku tak perlu risau

ketika usia tak lagi muda

karena cantikku tak akan pudar

tak seperti make-up tebal

Karena itulah, Aku berbahagia

Penulis adalah seorang muslimah yang juga mahasiswi Fakultas Teknik UI.

Sumber : http://khansanailah.wordpress.com

Oleh: awarsono | November 22, 2008

KETIKA KANG ABIK BICARA CINTA

Oleh : Rahmat Waluyo

Gedung Auditorium Teknik K.301 penuh hingga ke tribun atas, peserta yang tak mendapat kursi pun rela berdiri hingga akhir acara. Pasalnya siang itu Habiburrahman El Shirazy, Sang Penulis Novel Ketika Cinta Bertasbih, hadir untuk mengisi acara Cahaya Ramadhan yang diadakan Forum Ukhuwah dan Studi Islam FTUI. Kang Abik ‘diculik’ oleh para panitia dari asrama Audisi 5 Bintang Film Ketika Cinta Bertasbih di Parung untuk menjadi pembicara dengan tema Cinta pun Bertasbih di Bulan Ramadhan. Untuk kesekian kalinya Kang Abik mengisi acara di UI namun kali itu adalah pertama kalinya Kang Abik mengisi acara di Teknik. “Jika saya tahu mahasiswa Teknik ganteng-ganteng dan mahasiswinya cantik-cantik saya tidak perlu repot-repot melakukan Audisi Bintang Film KCB ke seluruh Indonesia. Cukup disini saja.”, perkataan Kang Abik tadi membuat para peserta yang hadir menjadi senyum-senyum pasang wajah manis sambil mendehem-dehem. “Iya, lihat saja wajah mahasiswanya banyak yang perihatin”, seluruh hadirin pun tertawa. “Azam kan perihatin”, lanjutnya meluruskan.

Siang itu Kang Abik bicara panjang lebar tentang cinta. Dari mulai inspirasinya untuk menulis Ketika Cinta Bertasbih, cerita cinta keluarganya hingga tentang makna cinta itu sendiri. Dengan mengutip tulisan Ibnul Qoyim Al Jauziyah dalam bukunya Raudhatul Muhibbin (Taman orang-orang yang jatuh cinta), Kang Abik menjelaskan bahwa Cinta adalah suatu hal yang sangat dimuliakan dalam Islam. Bahkan beberapa ulama mengatakan jika kita beribadah tanpa rasa cinta maka tidak akan diterima oleh Allah SWT. Coba bayangkan saja jika kita sholat 5 waktu tanpa disertai rasa cinta yang mendalam pada Allah SWT. Cinta adalah salah satu kebutuhan dasar manusia, sama seperti halnya makan dan minum. Karena itu cinta juga merupakan kebutuhan yang penting. Bahkan cinta pun dapat menjadi syafaat. Kelak di hari akhir ketika kiamat datang, ketika semua orang bingung, semuanya cemas. Allah akan memanggil-manggil orang yang saling mencintai karena keagungan-Nya. Akan diberi perlindungan ketika tidak ada lagi perlindungan selain dari-Nya.

Ada kisah menarik ketika Kang Abik masih sekolah dulu. Ketika itu Kang Abik dikejar-kejar oleh seorang siswi teman sekelasnya. Hingga saat Lebaran tiba, gadis tersebut datang berkunjung ke rumah. Seperti halnya tamu yang lain datang, gadis tadi pun di sambut dengan baik, diberi minuman, pada saat makan pun dipersilahkan. Namun hal yang menarik adalah pesan dari Ibu Kang Abik yang memberi pesan tanpa kesan menyakiti si gadis maupun menyalahkan Kang Abik, “Cewek itu kalau tidak kamu kejar Allah tetap akan menyiapkan untukmu, bahkan dia yang datang hari ini. Kamu kejar-kejar ke ujung dunia pun tidak akan dapat kalau bukan jodoh kamu. Tetapi ilmu, kalau tidak kamu kejar tidak akan kamu dapatkan.” Lalu ibunya menceritakan tentang pertemuannya dengan ayahnya dulu yang tetap menjaga nilai-nilai syariah, tidak melalui proses pacaran.

Mendengar penjelasan dari ibunya, Kang Abik pun mengurungkan niatnya untuk berpacaran. Beberapa tahun berlalu ketika Kang Abik sedang berkuliah di Mesir, ia mendapatkan surat dari gadis yang mengejar-ngejarnya dulu. Surat yang sangat tebal isinya. Dibacanya dengan perlahan, bahkan ia pun masih ingat dengan kalimat terakhir di surat itu, “Aku akan selalu menunggu sampai kapanpun.” Membaca surat itu pun membuat hati Kang Abik gundah gulana. Ia meminta nasihat dari kakak seniornya yang dirasa lebih baik daripadanya. Seniornya mengatakan jika wanita seperti itu tidak lama juga akan mempunyai pacar, kalau memang jodoh tidak akan kemana. Maka ia membalas suratnya yang menjelaskan untuk memikirkan saja diri masing-masing. “Kamu pikirkan saja diri kamu, aku pikirkan diriku. Wong, mikiri kuliah saja aku sudah mumet,” demikian tegasnya. Setelah beberapa tahun ternyata Kang Abik mendengar kabar bahwa gadis tadi sudah menikah. Mana janjinya dulu untuk menunggu sampai kapan pun?

Kang Abik berpesan kepada para peserta untuk menjaga proses agar tidak bertentangan dengan syariah. Menjauhi proses pacaran, seperti yang selama ini banyak dilakukan. Ia pun menceritakan tentang teman sekolah Kang Abik dulu yang setiap dua minggunya harus berganti pacar. Padahal kalau ia mau pergi bertemu dengan pacarnya maka ia suka meminjam barang-barang milik Kang Abik. Begitulah orang yang berpacaran selalu ingin terlihat yang terbaik di depan pacarnya maka akan selalu menutup-nutupi kekurangannya. Ada juga salah satu peserta karantina Audisi 5 Bintang Film KCB yang saat SMA saja pernah lebih dari sepuluh kali berpacaran. “Just for fun,” demikian alasannya. Hal ini juga yang sering menyebabkan gagalnya rumah tangga, karena menikah juga for fun saja, kalau sudah tidak fun ya ditinggalkan. Sakralnya pernikahan menjadi hilang, hal inilah yang berbeda dengan orang-orang dahulu.

Dalam kesempatan yang lain Kang Abik juga pernah berpesan bahwa, “Cinta itu suci, maka ia akan membuahkan pemikiran yang suci, ia akan menghasilkan tindakan yang suci, dan akan membuat peradaban yang suci.”

Sumber : http://rwaluyo.multiply.com

Oleh: awarsono | November 22, 2008

Pergerakan Perempuan.. Dulu, Kini, dan Nanti..

Oleh: Hazlinda Aziz*

Sejarah awal pergerakan

ImageSaat bangsa ini terus merintis kemajuannya demi meningkatkan martabat di mata bangsa lain, kepingan sejarah yang diciptakan oleh orang-orang berani dan bermisi kuat pun terus bertambah. Jika kita mau menelurusi kepingan-kepingan sejarah tersebut, maka jangan terkejut jika kita banyak menemukan peran wanita di dalamnya.

Tahun 2008 ini kita memperingati seratus tahun kebangkitan Nasional tahun 1908. Dalam seratus tahun perjalanan sejarah bangsa kita, kiprah perempuan Indonesia yang mengambil bagian dalam memajukan berbagai bidang kehidupan tidak bisa dilupakan begitu saja. Perempuan adalah bagian yang berhubungan sangat erat dengan masalah kesejahteraan masyarakat. Pada saat krisis perekonomian, perempuanlah yang paling merasakan akibat dari krisis tersebut. Namun dalam keadaan yang kritis, tak jarang pula perempuan lebih mempunyai inisiatif, bangkit dan menggerakkan masyarakat sekitarnya untuk memperbaiki kondisi perekonomian, mulai dari perekonomian keluarga hingga meluas ke perekonomian masyarakat.

Dilihat dari lembaran sejarah perjuangan bangsa, gerakan kebangkitan nasional berawal dari politik etis Hindia-Belanda yang memberi kesempatan bagi pemuda Indonesia untuk mengecap pendidikan di sekolah. Sebenarnya maksud dari politik pemerintah Hindia-Belanda adalah untuk menghasilkan pekerja seperti buruh-buruh yang terdidik, guru-guru, birokrat rendahan, serta dokter-dokter yang bisa menangani penyakit kaum pribumi. Dengan demikian mereka bisa menekan biaya operasional tanah jajahan (Indonesia) yang terlalu mahal bila menggunakan tenaga impor dari Belanda. Namun ternyata politik ini memberi manfaat tersendiri bagi pemuda Indonesia. Pencerahan dalam dunia pendidikan yang mereka dapatkan menuntut jiwa muda mereka untuk mulai bergerak memperjuangkan kebangkitan bangsa ini untuk menuju kemerdekaan nantinya. Hingga tahun 1908 berdirilah organisasi Budi Utomo yang menjadi titik kebangkitan nasional. Sebenarnya jauh sebelum Budi Utomo dikukuhkan, telah lahir nama-nama pejuang perempuan yang ikut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan.


Sebut saja nama Keumala Malahayati atau dikenal dengan Laksamana Malahayati yang menjadi Panglima Perang Armada Laut Wanita saat Aceh diperintah oleh Ali Riayat Shah (1586-1604), Alaudin Riayat Syah (1604-1607), dan Iskandar Muda (1607-1636). Dalam buku Vrouwelijke Admiral Malahayati karangan Marie van Zuchtelen, Malahayati diceritakan memimpin armada yang terdiri atas 2.000 prajurit perempuan. Selain Malahayati, kita kenal juga Martha Christina Tiahahu (1801-1818), Cut Nyak Dien (1850-1908), yang perjuangannya dilanjutkan anaknya, Cut Meurah Gambang, Cut Meutia, Pocut Baren, dan banyak lagi pejuang wanita di sana.
Memasuki era perjuangan perempuan tanpa senjata, lahirlah seorang pejuang perempuan bernama R.A. Kartini (1879-1904) yang berjuang dalam memajukan pendidikan bagi kaum perempuan. Beliau menggugah kesadaran masyarakat pada saat itu dengan mengganti pola pikir keliru yang menyebutkan bahwa perempuan tidak perlu mengecap pendidikan, dengan pola pikir kemajuan yang menuntut kaum perempuan untuk juga merasakan pendidikan di sekolah. Tidak hanya si Sekolah Rendah, melainkan harus dapat melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, seperti halnya kaum laki-laki. Tentu saja, tidak hanya Kartini yang berjuang dalam meningkatkan taraf hidup kaum perempuan. Ada banyak perempuan yang tersebar di Nusantara yang juga menjadi pejuang kaum perempuan untuk menjadi lebih baik dan maju. Sejarah mencatat beberapa nama seperti Rohana Kudus yang menaikkan nama perempuan di kalangan jurnalis Indonesia, Rasuna Said yang menjadi perempuan pertama yang ditangkap kemudian dipenjara karena pidatonya yang mengecam tajam ketidakadilan pemerintah Belanda pada tahun 1932 di Semarang, kemudian ada juga Ny. Dahlan yang membangun kajian ta’lim untuk Ibu-Ibu walau masih terbatas di kawasan pondok-pondok. Untuk mewujudkan cita-cita peningkatan kualitas pendidikan di kalangan perempuan, maka kekuatan masapun dirasa perlu. Oleh karena itu pejuang perempuan pada masa itu membentuk suatu organisasi perempuan yang akan mewadahi cita-cita mereka. Berawal dari Putri Mardika, sebuah organisasi formal perempuan yang didirikan di Jakarta pada tahun 1912, organisasi-organisasi formal perempuan pun bermunculan di berbagai daerah. Menjamurnya organisasi perempuan di negeri ini memunculkan gagasan untuk menyatukan pikiran dalam sebuah pertemuan akbar, dan dengan usaha kuat di tengah-tengah masa jajahan akhirnya berhasil diadakan Kongres Perempuan Indonesia tingkat nasional pertama pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta, dimana hampir 30 organisasi perempuan yang hadir pada saat itu. Kongres akbar yang menjadi fondasi pertama gerakan perempuan tersebut menghasilkan federasi organisasi yang bernama Persatoean Perempoean Indonesia (PPI) yang pada tahun berikutnya berubah nama menjadi PPII (Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia).
Dari untaian sejarah yang mengagumkan, dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya Nusantara yang luas seakan sempit ketika perjuangan tak mengenal batas. Di masa jajahan penuh kekangan ditambah dengan teknologi komunikasi yang jauh lebih sederhana dari sekarang ini, pejuang perempuan pada masa itu bisa dengan sukses mengumpulkan puluhan organisasi perempuan yang tersebar di Nusantara dalam satu kongres besar. Ternyata benar adanya, pejuang dan pemimpin yang lahir dari zona ‘tidak aman’ akan tumbuh kuat dan tangguh.

Pencapaian hingga saat ini

ImageDari usaha keras antar generasi yang dilakukan oleh pejuang terdahulu, banyak sekali manfaat yang bisa kita rasakan saat ini.

Pada 1947, Maria Ulfah menjadi menteri wanita pertama saat dipercaya sebagai Menteri Sosial. Sementara itu, angka keterwakilan perempuan di kursi legislatif, walau perlahan, mengalami kenaikan dari waktu ke waktu. Dari hanya 9 orang (3,8 persen dari semua anggota) pada 1950-1955, saat ini menjadi 45 orang (9 persen). Di dunia pendidikan, perempuan pun telah mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki. Tidak hanya di tingkat SD dan SMP, di kampus-kampus jumlah mahasiswa perempuan juga tidak kalah dengan jumlah mahasiswa yang laki-laki. Hal lain yang patut disyukuri adalah Munculnya kelompok-kelompok kajian Islam perempuan, yang justru menjamur di kampus-kampus negeri.

Tantangan pergerakan
Pergerakan perempuan yang berjalan dari masa ke masa tentu tidak berhenti sampai di sini saja. Seiring kemajuan bangsa, tantangan pergerakan juga akan terus hadir. Bahkan untuk kualitas pendidikan, sampai saat ini kita masih harus berjuang untuk menyetarakannya dengan negara-negara lain yang lebih berkembang. Untuk kasus kaum perempuan sendiri, di kalangan Ibu-Ibu masa kini bahkan masih perlu diberikan pencerdasan yang benar sesuai dengan aqidah Islam. Saat ini banyak sekali kaum Ibu yang bangga melihat anaknya mengumbar aurat di muka umum, asal terkenal dan berpenghasilan tinggi dianggap sudah sangat membanggakan. Hal-hal seperti inilah yang harus diluruskan. Emansipasi boleh, tapi jangan disamakan dengan gaya barat, karena emansipasi kita jelas berbeda dengan emansipasi gaya barat, emansipasi kita harus melihat kembali kepada Fiqh Islam.
Terakhir, tantangan dalam karya. Karena perjuangan dalam karya adalah investasi pengetahuan untuk generasi mendatang. Sama seperti pejuang terdahulu, kita tentu menginginkan perjuangan kita saat ini bisa dilanjutkan oleh anak cucu kita nanti. Banyak sekali pejuang perempuan pada masa lampau yang ikut berjuang mulai dari memajukan martabat perempuan hingga berjuang merebut kemerdekaan, namun mengapa seolah-olah hanya ada Kartini saja, mengapa nama beliau begitu besar dan harum di kalangan aktivis perempuan dari masa ke masa? Jawabannya adalah karena Kartini meningalkan karya sehingga bisa dinikmati sampai kapanpun oleh generasi penerus, sehingga sejarah pun akan mengenangnya bersama karya-karya itu sebagai bukti sejarah yang ditinggalkannya.

*: Anggota Kelompok Studi Perempuan SALAM UI, Mahasiswi Fasilkom angkatan 2006

Sumber : http://salam.ui.edu


Oleh: awarsono | November 22, 2008

Israel Rangsek Masuk Gaza, Perlawanan Gempur Kisovim

[ 21/11/2008 – 11:21 ]

Gaza – Infopalestina: Pasukan penjajah Zionis Israel merangsek masuk ratusan meter, Jum’at (21/11) pagi, di daerah Wadi Selfa di timur Deir Balah wilayah tengah Jalur Gaza.

Sumber-sumber local kepada koresponen Infopalestina mengatakan, sejumlah kendaraan perang Israel menyerbu masuk di timur Deir Balah sambil melancarkan tembakan secara sporadis ke arah rumah-rumah warga Palestina.

Para pejuang perlawanan Palestina menghadang laju pasukan Israel yang merangsek masuk dan mencoba menduduki sebuah rumah warga. Brigade Nasir Shalhuddin, sayap militer Komite Perlawanan Rakyat, menyatakan menggempur pos militer Israel Kisovim dengan mortar.

Sementara itu “Brigade Nasur Filistin” menyatakan menggempur pos militer yang sama dengan 3 buah mortar. Kelompok militer ini menegaskan bahwa aksi serangan ini dilakukan sebagai aksi balasan atas kejahatan penjajah Zionis Israel.

Pada 4 November lalu, pasukan penjajah Zionis Israel telah melakukan pelanggaran gencatan senjata dengan membunuh 6 pejuang Brigade al Qassam, sayap militer gerakan Hamas. Sejak saat itu, pasukan penjajah Zionis Israel telah membunuh 17 orang Palestina.

Ketua Partai Kadima Israel Tzepi Levni, yang menjabat sebagai menteri luar negari Israel, seperti ditulis kantor berita Arab aljazeera, Selasa (18/11), mengatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Israel dengan faksi-faksi Palestina di Jalur Gaza sudah tidak tegak lagi atau sudah berakhir. Demikian disampaikan Levni dalam sidang Fraksi Kadima di Parlemen Knesset Israel awal pekan ini.

dalam pernyataan yang dikutip radio publik Israel, Levni menyatakan gerakan Hamas bertanggung jawab atas berakhirnya kesepakatan gencatan senjata ini. Dia mengancam bahwa “aksi balasan Israel akan diarahkan kepada gerakan ini.”

Di sisi lain, Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel (direktur Shabak) Evi Dikhter menyerukan agar Israel melancarkan aksi militer secara meluas di Jalur Gaza. Dalam pernyataan yang dikutip radio Israel, Dikhter menganggap pelaksanaan aksi semacam ini (yakni aksi militer meluas di Jalur Gaza) sudah semestinya mengembalikan kekuatan daya preventif Israel. (seto)

Sumber : http://www.infopalestina.com

Older Posts »

Kategori