Oleh: awarsono | Agustus 11, 2008

Orasi Astri Ivo pada Konser 3 Agustus

Print

E-mail

Friday, 01 August 2008

Assalaamuaalaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Setiap bangsa pasti tidak mau dijajah, tidak ada satu orangpun di dunia ini yang menginginkan penjajahan, setiap jiwa ingin bebas dan merdeka, berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa intervensi, tanpa tekanan dari pihak manapun, tanpa penindasan tanpa penyiksaan. Kemerdekaan adalah merupakan fitrah semua insan, setiap anak lahir ke dunia dalam keadaan merdeka, simaklah kata Umar Radiyallahu Anhu yang mengatakan, “Matasta’badtumun naasa wawaladathum ummahatuhum ahraaran” “ Sejak kapan kamu memperbudak manusia sementara mereka dilahirkan oleh ibu mereka dalam keadaan merdeka”.

Maka sebuah bangsa tidak akan tinggal diam jika tanahnya dirampas, setiap orang akan berjuang untuk mempertahankan yang menjadi miliknya; kemerdekaan, kebebasan yang ia miliki sejak ia lahir ke dunia, bebas dari penindasan, lepas dari kezhaliman. Sungguh yang dilakukan oleh bangsa Palestina juga demikian, mereka hanya ingin apa yang menjadi miliknya itu kembali, mereka hanya ingin apa yang menjadi haknya tersebut diberikan, hak atas tanah yang mereka telah tinggal di atasnya selama ribuan tahun, hak atas tempat tinggal yang mereka diami selama berabad-abad, karena memang merekalah pemilik sah dari bumi suci Palestina, bukan zionis yahudi sebagaimana yang mereka ada-ada.

Tapi apa yang mereka dapat? Penindasan, penghinaan, kezhaliman, penggusuran, pembunuhan, penganiayaan. Setiap hari mereka harus berhadapan dengan moncong-moncong senapan, setiap hari mereka harus melihat saudara-saudara mereka mati, setiap hari mereka harus menghadapi tank-tank berlapis baja, pesawat-pesawat tempur yang memborbardir, meluluhlantakkan rumah-rumah mereka, sekolah, toko, dan bangunan lainnya hingga yang tersisa hanya pakaian yang menempel, puing-puing dan reruntuhan.

Mereka terus berjuang untuk mengembalikan tanah mereka seutuhnya, mereka terus berjuang mempertahankan harga diri mereka, memperjuangkan kemerdekaan, kemerdekaan yang penuh, bukan kemerdekaan semu yang dibuat oleh zionis dan anteknya, mereka ingin bumi mereka kembali, bukan 5% tanah yang saat ini “dihibahkan”. Mereka terus berjuang walau harus kehilangan jiwa dan raga, merekalah yang menjual jiwa dan raganya untuk berjuang di jalan Allah; “innallahasy tara minal mu’miniina anfusahum wa amwalahum bi anna lahumul jannah, yuqaatiluuna fi sabiillahi fayaqtuluuna wayuqtaluun, wa’dan alaihi haqqan fit tauraati wal injiili wal quran”

إنّ الله اشترى من المؤمنين أموالهم وأنفسهم بأن لهم الجنة يقاتلون في سبيل الله فيقتلون ويقتلون وعدا عليه حقا في التوراة والإنجيل والقراّن (التوبة: 111)

“ Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mu’min, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai janji yang benara dari Allah di dalam taurat, Injil dan Al Qur’an.” (Attaubah: 111)

Mereka terus berjuang dengan bekal keimanan dan ketakwaan, dan mereka yakin bahwa dengan berbekal kesabaran dan kegigihan mereka akan menang. Mereka terus berjuang hingga menang dengan kemuliaan atau menjadi syahid yang didambakan.

Berbicara tentang perjuangan di Palestina, maka hal tersebut tak pernah lepas dari peran para ibu dan anak disana, wanita Palestina melewati hari-harinya diantara deraian air mata, serakan puing-puing bangunan dan rumah-rumah penduduk yang dihancurkan zionis; diantara deretan pos pemeriksaan dan penjagaan pos militer Israel; diantara pesawat tempur yang terus membayangi mereka, menebarkan ancaman bagi nyawa dan raga mereka. Betapa banyak ibu yang ditinggal syahid anak kesayangan mereka; betapa banyak kaum ibu yang menjerit, meronta merebut anaknya yang akan dipenjara Israel, betapa banyak para petani kaum ibu lunglai lesu melihat ladang mereka yang siap panen hancur luluh lantak di bawah buldoser Israel…

Namun mereka tak pernah menyerah..

Wanita-wanita Palestina dengan gagah berani, dengan penuh rasa izzah dan kemuliaan, dengan gemuruh dada penuh semangat dan dengan tangan kosong tanpa senjata berani menghadapi tank-tank lapis baja militer Israel. Mereka membuat ukiran kemuliaan hidup dalam perjuangan membela kehormnatan diri dan bangsa. Mereka tidak peduli dengan langkah dan kebijakan para politisi yang lebih mengutamakan strategi lain tanpa mengutamakan realitas lapangan medan perang, ketika darah anak bangsa yang sayhid diterjang keganasan senjata musuh Israel. Mereka wanita Palestina berperan serta secara langsung dalam derap jihad dan intifadhah, puluhan sudah syahidah Palestina dari usia balita hingga kaum papa. Bahkan diantara para syahid terdapat bayi yang masih berumur 24 hari saja.

Palestina sekarang ini berada dalam kondisi kehidupan yang paling sulit sepanjang sejarahnya, meski demikian wanita Palestina masih survive berada dalam barisan pejuang yang lainnya dalam jihad di Palestina. Dan menurut saya ini merupakan bukti sejarah dari keteguhan wanita dalam berjuang membela tanah dan bangsanya.

Kalau kita melihatnya secara mendalam dalam sejarah perjuangan ada dua golongan yang menjadi pilar perjuangan di sana: laki-laki dan wanita. Wanita dalam perjuangan di lapangan sama seperti pejuang laki-laki. Itu terjadi sejak perang melawan penjajah Israel meletus pertama kali dan sejak pertama kali munculnya revolusi rakyat Palestina.

Simbol utama wanita Palestina dalam intifadhah adalah kemerdekaan bangsa Palestina. Dan ini merupakan prioritas utama setiap wanita di sana. Dan berjuang untuk kemerdekaan Palestina merupakan prioritas utama setiap wanita Palestina. Dalam kesehariannya mereka tidak akan merasa tenang berada di tengah-tengah masyarakat kecuali kalau sudah mementingkan bangsanya dan kemerdekaan tanah airnya.

Dalam blokade yang telah terjadi selama lebih dari satu tahun, wanita Palestina memiliki peran yang sangat besar dalam perjuangan, paling tidak mereka memiliki peranan penting dalam empat hal:

  1. Meneguhkan anak dan suami mereka agar tetap bersabar di jalan Allah, untuk tetap berjuang di jalanNya walaupun itu harus di bayar dengan nyawa. Suatu ketika seorang syaikh dari Palestina bercerita, di saat adiknya mati akibat sebuah serangan bom dari Israel, maka ia menghampiri ibunya dan bersimpuh di kedua kakinya sambil menangis, lalu sang ibu malah berkata kepadanya; “Bangun!! Sesungguhnya saudara kamu telah mendapatkan apa yang dicita-citakan, Allah telah melimpahkan rizki syahid dan ini adalah cita-cita manusia yang paling mulia”. Ketika terjadi pertempuran, banyak pemuda yang pergi pada malam harinya ke daerah perbatasan untuk melawan zionis, jumlah mereka ribuan, setiap kali istri mengucapkan selamat tinggal pada suaminya, ibu mengucapkan selamat tinggal pada anaknya di malam hari, mereka tetap menyemangati suami dan anak mereka sekalipun mereka tahu bahwa mungkin mereka tidak akan kembali lagi dan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Di kala pemboikotan terus berangsung, mereka mengatakan, teruskanlah perjuangan, jalankanlah pemerintahan, kami rela berjuang meskipun kami tidak makan.
  2. Menghibur atas penderitaan yang dialami, walaupun mereka harus makan 1 kali sehari, walaupun mereka harus berhadapan dengan bom-bom dan hujan peluru setiap harinya. Para wanita Palestinalah yang membuat laki-laki di sana mampu betahan dalam kesulitan akibat blokade selama 1 tahun lamanya, mereka pula yang menghibur ketika anak mereka tewas dalam sebuah pertempuran, mereka menghibur akan surga yang dijanjikan oleh Allah SWT bagi hambaNya yang sabar dalam penderitaan, surga yang kekal abadi, yang mengalir di bawahnya sungai sungai yang begitu indah, mereka yang memberi kabar gembira akan surga yang dijanjikan.
  3. Membantu para pejuang dalam mengatur strategi-strategi perlawanan, para mahasiswi di universitas-universitas di Palestina merancang pelaksanaan operasi syahid, banyak operasi-operasi bom syahid rancangan mereka yang berhasil dengan sangat gemilang, zionis juga telah menawan sebagian dari mereka, diantaranya adalah saudari Ahlam at-Tamimi, seorang mahasiswi yang berhasil merancang operasi bom syahid yang mengakibatkan terbunuhnya 3 orang yahudi. Akibat perbuatannya itu Zionis tidak tanggung-tanggung; memvonisnya dengan hukuman lebih dari 2000 tahun penjara,
  4. Melakukan perjuangan itu sendiri, para wanita Palestina menyumbangkan puluhan syuhuda dalam banyak operasi, suatu ketika Rim riyasyi, seorang ibu muda yang berumur 22 tahun, ia meninggalkan anak-anaknya yang masih balita bahkan ada yang masih berumur beberapa bulan, ia lebih mencintai kesyahidan daripada dunia dan isinya, ia pergi untuk melakukan operasi syahid dan ia mengatakan kepada kedua anaknya : “wahai anakku demi Allah sesungguhnya kalian adalah orang yang sangat aku cintai, akan tetapi syahid lebih mulia dan lebih aku cintai dari segalanya, pertemuan dengan Allah lebih aku sukai” kemudian ia melakukan operasi syahid. Para wanita Palestina, merekalah yang berdiri di garda terdepan ketika menerobos gerbang rafah yang amat kokoh, berhadapan dengan moncong-moncong senapan tentara zionis dan Mesir, mereka tidak takut sedikitpun, bahkan mereka pula yang berhasil menerobos gerbang tersebut beberapa waktu yang lalu, hingga ratusan ribu rakyat Gaza sempat terselamatkan dari blokade. Bahkan hingga saat ini mereka terus berdiri di depan pintu-pintu perlintasan, berdemonstrasi, beraspirasi, terus berjuang agar pintu tersebut terbuka, agar bahan makanan, obat-obatan dan kebutuhan pokok lainnya bisa masuk,

Sungguh apa yang menimpa mereka adalah merupakan tanggung jawab kita, sebagai seorang muslim, sebagai yang menjunjung tinggi hak asasi dan kemanusiaan, sebagai bangsa yang menganut paham demokrasi.

Penderitaan mereka adalah derita kita, ratapan mereka adalah tangis kita, kesengsaraan mereka adalah kesusahan kita, kita harus bangkit melawan penjajahan, kita harus bersatu melawan kezhaliman, kita harus mendukung kemerdekaan mereka sebagaimana ketika kita didukung oleh negara-negara arab pada masa awal kemerdekaan beberapa puluh tahun silam. Kita dukung mereka sehingga mereka mendapatkan apa yang kita rasakan; kemerdekaan penuh di atas tanah milik kita sendiri.

Semoga dengan moment Isra mi’raj yang berdekatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia ini menjadi titik tolak kemerdekaan di bumi Palestina. Allahumma, ya Allah tolonglah hamba-hambaMu yang menderita di Palestina, bebaskanlah mereka dari segala aniaya, ringankanlah beban berat yang mereka tanggung, jadikanlah Palestina Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, berikanlah ketentraman bagi penduduk negeri penuh berkah ini, berikanlah kemerdekaan bagi mereka ya Allah. Allahumma amin.

Saya tutup orasi saya ini dengan sebuah puisi:

Palestina Menjerit

Wahai manusia yang memiliki nurani….

Wahai manusia yang menjunjung tinggi kemanusiaan…

Dimana engkau di saat ribuan jiwa meregang nyawa

Mereka tak berdosa, ya sungguh mereka tak berdosa…

Mereka hanyalah manusia yang ingin mempertahankan jiwanya

Mereka hanya jiwa yang ingin merebut kembali haknya, sebagai bangsa

Atas apa yang mereka miliki

Atas semua yang dirampas dari mereka

Ya, penjajah telah merampas milik mereka

Tanpa belas kasihan

Tanpa ampun

Tanpa nurani

Wahai jiwa, bangkitlah!!!

Tolonglah saudara-saudaramu yang ada di Palestina

Dengan raga

Dengan dana

Dengan doa

Puncak, 6 maret 2008

Di kala suhu dingin mengingatkan penderitaan yang dirasakan saudara kita di Palestina.

Allahu akbar… Allahuakbar… Allahuakbar… Merdeka !!!!

Wassalaamuaalaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Oleh: Izharul Haq (Sekretaris harian KNRP)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: