Oleh: awarsono | November 22, 2008

KETIKA KANG ABIK BICARA CINTA

Oleh : Rahmat Waluyo

Gedung Auditorium Teknik K.301 penuh hingga ke tribun atas, peserta yang tak mendapat kursi pun rela berdiri hingga akhir acara. Pasalnya siang itu Habiburrahman El Shirazy, Sang Penulis Novel Ketika Cinta Bertasbih, hadir untuk mengisi acara Cahaya Ramadhan yang diadakan Forum Ukhuwah dan Studi Islam FTUI. Kang Abik ‘diculik’ oleh para panitia dari asrama Audisi 5 Bintang Film Ketika Cinta Bertasbih di Parung untuk menjadi pembicara dengan tema Cinta pun Bertasbih di Bulan Ramadhan. Untuk kesekian kalinya Kang Abik mengisi acara di UI namun kali itu adalah pertama kalinya Kang Abik mengisi acara di Teknik. “Jika saya tahu mahasiswa Teknik ganteng-ganteng dan mahasiswinya cantik-cantik saya tidak perlu repot-repot melakukan Audisi Bintang Film KCB ke seluruh Indonesia. Cukup disini saja.”, perkataan Kang Abik tadi membuat para peserta yang hadir menjadi senyum-senyum pasang wajah manis sambil mendehem-dehem. “Iya, lihat saja wajah mahasiswanya banyak yang perihatin”, seluruh hadirin pun tertawa. “Azam kan perihatin”, lanjutnya meluruskan.

Siang itu Kang Abik bicara panjang lebar tentang cinta. Dari mulai inspirasinya untuk menulis Ketika Cinta Bertasbih, cerita cinta keluarganya hingga tentang makna cinta itu sendiri. Dengan mengutip tulisan Ibnul Qoyim Al Jauziyah dalam bukunya Raudhatul Muhibbin (Taman orang-orang yang jatuh cinta), Kang Abik menjelaskan bahwa Cinta adalah suatu hal yang sangat dimuliakan dalam Islam. Bahkan beberapa ulama mengatakan jika kita beribadah tanpa rasa cinta maka tidak akan diterima oleh Allah SWT. Coba bayangkan saja jika kita sholat 5 waktu tanpa disertai rasa cinta yang mendalam pada Allah SWT. Cinta adalah salah satu kebutuhan dasar manusia, sama seperti halnya makan dan minum. Karena itu cinta juga merupakan kebutuhan yang penting. Bahkan cinta pun dapat menjadi syafaat. Kelak di hari akhir ketika kiamat datang, ketika semua orang bingung, semuanya cemas. Allah akan memanggil-manggil orang yang saling mencintai karena keagungan-Nya. Akan diberi perlindungan ketika tidak ada lagi perlindungan selain dari-Nya.

Ada kisah menarik ketika Kang Abik masih sekolah dulu. Ketika itu Kang Abik dikejar-kejar oleh seorang siswi teman sekelasnya. Hingga saat Lebaran tiba, gadis tersebut datang berkunjung ke rumah. Seperti halnya tamu yang lain datang, gadis tadi pun di sambut dengan baik, diberi minuman, pada saat makan pun dipersilahkan. Namun hal yang menarik adalah pesan dari Ibu Kang Abik yang memberi pesan tanpa kesan menyakiti si gadis maupun menyalahkan Kang Abik, “Cewek itu kalau tidak kamu kejar Allah tetap akan menyiapkan untukmu, bahkan dia yang datang hari ini. Kamu kejar-kejar ke ujung dunia pun tidak akan dapat kalau bukan jodoh kamu. Tetapi ilmu, kalau tidak kamu kejar tidak akan kamu dapatkan.” Lalu ibunya menceritakan tentang pertemuannya dengan ayahnya dulu yang tetap menjaga nilai-nilai syariah, tidak melalui proses pacaran.

Mendengar penjelasan dari ibunya, Kang Abik pun mengurungkan niatnya untuk berpacaran. Beberapa tahun berlalu ketika Kang Abik sedang berkuliah di Mesir, ia mendapatkan surat dari gadis yang mengejar-ngejarnya dulu. Surat yang sangat tebal isinya. Dibacanya dengan perlahan, bahkan ia pun masih ingat dengan kalimat terakhir di surat itu, “Aku akan selalu menunggu sampai kapanpun.” Membaca surat itu pun membuat hati Kang Abik gundah gulana. Ia meminta nasihat dari kakak seniornya yang dirasa lebih baik daripadanya. Seniornya mengatakan jika wanita seperti itu tidak lama juga akan mempunyai pacar, kalau memang jodoh tidak akan kemana. Maka ia membalas suratnya yang menjelaskan untuk memikirkan saja diri masing-masing. “Kamu pikirkan saja diri kamu, aku pikirkan diriku. Wong, mikiri kuliah saja aku sudah mumet,” demikian tegasnya. Setelah beberapa tahun ternyata Kang Abik mendengar kabar bahwa gadis tadi sudah menikah. Mana janjinya dulu untuk menunggu sampai kapan pun?

Kang Abik berpesan kepada para peserta untuk menjaga proses agar tidak bertentangan dengan syariah. Menjauhi proses pacaran, seperti yang selama ini banyak dilakukan. Ia pun menceritakan tentang teman sekolah Kang Abik dulu yang setiap dua minggunya harus berganti pacar. Padahal kalau ia mau pergi bertemu dengan pacarnya maka ia suka meminjam barang-barang milik Kang Abik. Begitulah orang yang berpacaran selalu ingin terlihat yang terbaik di depan pacarnya maka akan selalu menutup-nutupi kekurangannya. Ada juga salah satu peserta karantina Audisi 5 Bintang Film KCB yang saat SMA saja pernah lebih dari sepuluh kali berpacaran. “Just for fun,” demikian alasannya. Hal ini juga yang sering menyebabkan gagalnya rumah tangga, karena menikah juga for fun saja, kalau sudah tidak fun ya ditinggalkan. Sakralnya pernikahan menjadi hilang, hal inilah yang berbeda dengan orang-orang dahulu.

Dalam kesempatan yang lain Kang Abik juga pernah berpesan bahwa, “Cinta itu suci, maka ia akan membuahkan pemikiran yang suci, ia akan menghasilkan tindakan yang suci, dan akan membuat peradaban yang suci.”

Sumber : http://rwaluyo.multiply.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: