Oleh: awarsono | April 13, 2009

AGAMA INI TELAH SEMPURNA

MAKTABAH AS SUNNAH
http://assunnah.cjb.net

AGAMA INI TELAH SEMPURNA
Oleh : Al Ustadz Muslim Abu Ishaq*

Kesempurnaan Islam
Islam sebagai satu-satunya agama yang dipilih oleh Allah Ta’ala sebagaimana firman-
Nya :
“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam” (Ali Imran : 19)
Merupakan kebenaran mutlak yang datang dari Allah Ta’ala dan tidak ada kebenaran
selain Islam, maka siapa yang menginginkan selain Islam berarti dia memilih
kebathilan dan dalam keadaan merugi. Allah Ta’ala berfirman :
“Apakah selain agama Allah (Islam) yang mereka inginkan, padahal hanya kepada
Allah-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi baik dengan tunduk
(taat) maupun dipaksa dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.” (Ali Imran :
83)
“Dan siapa yang menginginkan selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan
diterima darinya agama tersebut dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang
merugi.” (Ali Imran : 85)
Agama yang haq ini telah disempurnakan oleh Allah Ta’ala dalam segala segi, segala
yang dibutuhkan hamba untuk kehidupan dunia dan akhiratnya telah dijelaskan,
sehingga tidak luput satu percakapan melainkan Islam telah mengaturnya. Allah
Ta’ala berfirman :
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah
kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.”
(Al Maidah : 3)

Al Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya berkata : “Ini merupakan nikmat
Allah yang terbesar bagi ummat ini, dimana Allah telah menyempurnakan bagi
mereka agama mereka sehingga mereka tidak butuh kepada selain agama Islam dan
tidak butuh kepada Nabi selain Nabi mereka shalawatullahi wasalaamu alaihi. Karena
itulah Allah menjadikan Nabi ummat ini (Muhammad shallallahu alahi wasallam, pent.)
sebagai penutup para Nabi dan Allah mengutusnya untuk kalangan manusia dan jin,
maka tidak ada perkara yang haram kecuali apa yang dia haramkan, dan tidak ada
agama kecuali apa yang dia syariatkan. Segala sesuatu yang dia kabarkan adalah
kebenaran dan kejujuran tidak ada kedustaan padanya dan tidak ada penyuluhan.”
(Tafsir Al Quranul Adhim 3/14. Dar Al Ma’rifat)
Pernah datang seorang Yahudi kepada Umar Ibnul Khattab radhiallahu ‘anhu lalu ia
berkata : [ Wahai Amirul Mukminin! Seandainya ayat ini :
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah
Kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.”
Turun atas kami, niscaya kami akan jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari
raya. ]
Maka Umar menjawab : “Sesungguhnya aku tahu pada hari apa turun ayat tersebut,
ayat ini turun pada hari Arafah bertepatan dengan hari Jum’at.” (Riwayat Bukhari
dalam Shahih-nya nomor 45,4407,4606)
Ayat yang menunjukkan kesempurnaan Islam ini memang patut dibanggakan dan hari
turunnya patut dirayakan sebagai hari besar. Namun kita tidak perlu membuat-buat
hari raya baru karena Allah menurunkannya tepat pada hari besar yang dirayakan
oleh seluruh kaum Muslimin, yaitu hari Arafah dan hari Jum’at.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai utusan Allah Ta’ala kepada ummat ini
telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah dari Allah dengan sempurna.
Maka tidaklah beliau shallallahu alaihi wasallam wafat melainkan beliau telah
menjelaskan kepada ummatnya seluruh apa yang mereka butuhkan.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata :
“Sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam berkhutbah dihadapan kami dengan suatu
khutbah yang beliau tidak meninggalkan sedikitpun perkara yang akan berlangsung
sampai hari kiamat kecuali beliau sebutkan ilmunya … .” (Shahih Bukhari nomor
6604)
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya (juz 4 halaman 2217) dari Abu Zaid
Amr bin Akhthab radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
“Rasullullah shallallahu alaihi wasallam shalat Shubuh bersama kami.(Selesai shalat)
beliau naik ke mimbar lalu berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Dhuhur,
beliau turun dari mimbar dan shalat Dhuhur. Kemudian beliau naik lagi ke mimbar lalu
berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Ashar, kemudian beliau turun dari
mimbar dan shalat Ashar. (Setelah shalat Ashar) beliau naik ke mimbar lalu
mengkhutbahi kami hingga tenggelam matahari. Dalam khutbah tersebut beliau
mengabarkan pada kami apa yang telah berlangsung dan apa yang akan berlangsung
… .”
Bid’ah Adalah Kesesatan
Dengan kesempurnaan yang dimiliki, syariat Islam tidak lagi memerlukan
penambahan, pengurangan, ataupun perubahan, atau lebih simpelnya hal-hal ini
diistilahkan bid’ah dalam agama yang telah diperingatkan dengan keras oleh
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau :
“Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah ucapan Allah dan sebaik-baik ajaran
adalah ajaran Rasulullah. Dan sesungguhnya sejelek-jelek perkara adalah sesuatu
yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya sesuatu yang baru diadaadakan
(dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR.
Muslim no. 867)

Mengapa Bid’ah Dan Pembuatnya Dikatakan Sesat ?
Karena, pertama, bisa jadi pembuat bid’ah itu menganggap ajaran agama ini belum
sempurna hingga perlu penyempurnaan dari hasil pemikiran manusia. Dengan
anggapan demikian berarti ia mendustakan firman Allah Ta’ala yang memberikan
kesempurnaan agama ini.
Kedua, bisa jadi ia menganggap agama ini telah sempurna, namun ada perkara yang
belum disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang berarti ia
menuduh beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah berkhianat dalam penyampaian
risalah. Padahal para shahabat seperti Abu Dzar radliallahu anhu mempersaksikan :
“Rasulullah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang
mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan ilmunya
pada kami.”
Abu Dzar kemudian berkata :
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Tidaklah tertinggal sesuatu yang
dapat mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka kecuali telah diterangkan
pada kalian.” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, lihat As Shahihah karya
Syaikh Albani rahimahullah 4/416 dan hadits ini memiliki pendukung dari
riwayat lain)
Imam Malik rahimahullah berkata :
Barangsiapa yang mengada-adakan dalam Islam sesuatu kebid’ahan dan
menganggapnya baik berarti ia telah menuduh Rasulullah telah berkhianat dalam
menyampaikan risalah. Karena Allah telah berfirman : “Pada hari ini telah Aku
sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Maka apa yang waktu itu (pada masa
Rasulullah dan para shahabat beliau) bukan bagian dari agama, (maka) pada hari ini
pun bukan bagian dari agama.” (Lihat Al I’tisham oleh Imam Syathibi halaman
37)
Ketiga, bisa jadi pembuat bid’ah itu menganggap dirinya lebih berilmu dibanding
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga dia tahu ada amalan baik yang tidak
diketahui dan tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Apakah Teranggap Niat Baik Seseorang Ketika Berbuat Bid’ah ?
Bagaimana bila ada orang yang berkata bahwa ia membuat-buat amalan bid’ah atau
mengerjakannya dengan niat yang baik dan ikhlas karena Allah ? Maka dijawab
bahwa syarat diterimanya suatu amalan tidaklah sekedar niat baik atau ikhlas, namun
juga harus dibarengi dengan Mutaba’ah Ar Rasul (mengikuti Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam), adakah contohnya dari beliau atau tidak.
Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala (yang artinya) :
“Maka siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah dia
melakukan amal shalih dan janganlah dia menyekutukan Rabb-nya dengan seorang
pun dalam peribadatan kepada-Nya.” (QS. Al Kahfi : 10)
Beliau rahimahullah berkata : [ Firman Allah : ” … hendaklah ia melakukan amal
shalih … .” Yang cocok/sesuai dengan syariat Allah. Dan firman-Nya : ” … dan
janganlah dia menyekutukan Rabb-nya dengan seorang pun dalam peribadatan
kepada-Nya.” Yang diinginkan dalam beribadah tersebut adalah wajah Allah saja
tanpa menyekutukan-Nya. Dua rukun diterimanya amalan adalah (pertama) harus
dilakukan ikhlas karena Allah dan (kedua) amalan tersebut benar dan sesuai dengan
syariat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/114) ]

Terhadap firman Allah Ta’ala : “Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan
agar Dia menguji kalian siapa yang paling baik di antara kalian amalannya.” (QS. Al
Mulk : 2)
Al Fudlail bin Iyadl rahimahullah berkata : “Amalan yang paling baik adalah amalan
yang paling ikhlas dan paling benar/tetap. Karena amalan yang hanya disertai
keikhlasan namun tidak benar maka amalan itu tidak diterima. Dan sebaliknya, bila
amalan itu benar namun tidak dibarengi keikhlasan juga tidak akan diterima.”
Pernah datang tiga orang shahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam ke rumah istri-istri
beliau guna menanyakan tentang ibadah beliau. Tatkala diberitahukan kepada
mereka, mereka menganggapnya kecil dan mereka berkata :
“Apa kedudukan kita dibanding Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau telah diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu dan yang belakangan.” Berkata salah seorang dari
mereka : “Aku akan shalat sepanjang malam tanpa tidur selamanya.” Yang kedua
berkata : “Aku akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka.” Yang
terakhir berkata : “Aku akan menjauhi wanita maka aku tidak akan menikah
selamanya.” Lalu datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ucapan-ucapan
mereka disampaikan kepada beliau, maka beliau bersabda : “Apakah kalian yang
mengatakan begini dan begitu ?! Ketahuilah! Demi Allah, aku adalah orang yang
paling takut kepada Allah dibanding kalian dan paling bertakwa kepada-Nya, akan
tetapi aku puasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku tidur, dan aku juga menikahi
wanita. Siapa yang benci (berpaling) terhadap sunnahku maka ia bukan dari
golonganku (orang-orang yang menjalankan sunnahku).” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Kalau kita lihat keberadaan tiga orang ini maka kita dapatkan niatan mereka yang
baik yaitu untuk bersungguh-sungguh melakukan ibadah kepada Allah, namun apakah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyetujui perbuatan mereka? Jawabannya
bisa kita lihat dari pernyataan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.
Benar sekali apa yang diucapkan oleh shahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud
radhiyallahu anhu : “Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguhsungguh
dalam perbuatan bid’ah.”
Orang-orang yang mengadakan bid’ah itu walaupun niatnya baik tetap tertolak
dengan dalil hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam :
“Siapa yang mengada-adakan sesuatu amalan di dalam urusan (agama) kami ini
dengan yang bukan bagian dari agama ini maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari
dan Muslim dalam Shahih keduanya)
Dan beliau bersabda :
“Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka
amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)
Karena itu yang wajib bagi kaum Muslimin adalah mencukupkan diri dengan ibadahibadah
yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tanpa menambah ataupun
menguranginya.
Adakah Bid’ah Hasanah ?
Tidak ada dalam agama ini istilah pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah (bid’ah
yang baik) dan bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang jelek) karena Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam telah menegaskan :
“Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. Muslim
dalam Shahih-nya, sedang tambahannya diriwayatkan dalam Sunan Nasa’i)
Lalu bagaimana dengan ucapan Umar radhiallahu anhu ketika melihat pelaksanaan
shalat tarawih secara berjama’ah : “Sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini.”
(Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya)
Maka kita katakan bahwa yang dimaukan oleh Umar dengan ucapannya tersebut
adalah pengertian bid’ah secara bahasa, bukan secara syari’at, karena Umar
mengucapkan perkataan demikian sehubungan dengan berkumpulnya manusia
dibawah satu imam dalam pelaksanaan shalat tarawih, sementara shalat tarawih
secara berjama’ah telah disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
dimana beliau sempat mengerjakannya selama beberapa malam secara berjama’ah
dengan para shahabatnya, kemudian beliau tinggalkan karena khawatir hal itu
diwajibkan atas mereka. Sehingga setelah itu manusia mengerjakan tarawih secara
sendiri-sendiri atau dengan jama’ah yang terpisah-pisah (berbilang/berkelompokkelompok).
Lalu pada masa pemerintahannya Umar radhiallahu ‘anhu, Umar radhiallahu ‘anhu
mengumpulkan mereka dibawah pimpinan satu imam sebagaimana pernah dilakukan
di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, karena wahyu telah berhenti turun
dengan meninggalnya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan berarti tidak ada lagi
kekhawatiran diwajibkannya perkara tersebut. Dengan demikian Umar radhiallahu
‘anhu menghidupkan kembali sunnah tarawih secara berjama’ah dan ia
mengembalikan sesuatu yang sempat terputus, maka teranggaplah perbuatannya
tersebut sebagai bid’ah dalam pengertian bahasa, bukan pengertian syari’at,
karena bid’ah yang syar’i hukumnya haram, tidak mungkin Umar radhiallahu ‘anhu
ataupun selainnya dari kalangan shahabat melakukan hal tersebut, sementara mereka
tahu peringatan keras dari Nabi radhiallahu ‘anhu akan perbuatan bid’ah. (Dzahirut
Tabdi’, halaman 43-44)
Adapun di masa Abu Bakar radiallahu anhu, sunnah tarawih secara berjama’ah ini
tidak sempat dihidupkan karena khilafah beliau hanya sebentar dan ketika itu beliau
disibukkan dengan orang-orang yang murtad dan enggan membayar zakat, demikian
keterangan Imam Syathibi dalam kitabnya Al I’tisham, wallahu a’lam.
Semoga Allah merahmati shahabat Nabi, Abdullah Bin Umar radiallahu anhuma yang
berkata :
“Setiap bid’ah adalah sesat sekalipun manusia memandangnya baik.”
Hukum Membuat Bid’ah Dalam Agama
Hukum membuat bid’ah dalam agama adalah haram berdasarkan Al Qur’an, As
Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan ulama), karena membuat bid’ah berarti menetapkan
syariat yang menyaingi syariat Allah, yang berarti menentang dan mengadakan
permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya. (Hurmatul Ibtida’ fid Dien wa Kullu
Bid’atin Dlalalah, Abu Bakar Jabir Al Jazairi, halaman 8)
Contoh Bid’ah Dalam Hari Raya/Hari Besar Yang Disandarkan
Kepada Islam
Dalam syariat agama yang mulia ini hanya dikenal adanya dua hari raya/ied,
sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu :
Nabi shallallahu alaihi wasallam datang ke Madinah dan ketika itu penduduk Madinah
memiliki dua hari raya yang mereka bisa bersenang-senang di dalamnya pada masa
jahiliyyah, maka beliau bersabda : “Aku datang pada kalian dalam keadaan kalian
memiliki dua hari raya yang kalian bersenang-senang di dalamnya pada masa
jahiliyyah. Dan sungguh Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari tersebut
dengan yang lebih baik yaitu hari Nahr (Iedul Adha) dan Iedul Fitri.” (HR Ahmad,
Abu Daud, Nasa’i dan Baghawi)
Iedul Adha dan Iedul Fitri lebih baik daripada dua hari raya yang dimiliki penduduk
Madinah karena Iedul Adha dan Iedul Fitri ditetapkan dengan syariat Allah yang
dipilih-Nya untuk hamba-Nya dan kedua hari raya tersebut mengiringi dua amalan
besar dalam Islam yaitu haji dan puasa. Sedangkan hari Nairuz dan Mahrajan
ditetapkan dengan pilihan manusia. (Ahkamul Iedain fis Sunnatil Muthahharah,
halaman15-16)

Apabila kita telah mengetahui bahwa hari raya dalam Islam hanya ada dua, maka
selain dari dua hari raya ini adalah hari raya yang diada-adakan (bid’ah), kemudian
dinisbahkan kepada agama. Contohnya seperti :
– Isra’ Mi’raj. Perayaan ini meniru perayaan Paskah (kenaikan Isa Al Masih) umat
Nashrani, padahal kita dilarang meniru orang-orang kafir, Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam sendiri memperingatkan : “Siapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia
termasuk golongan kaum tersebut.”
– Perayaan Nuzul Qur’an
– Perayaan tahun baru Islam 1 Muharram, yang meniru perayaan tahun baru
Masehi.
– Maulid Nabi, yang meniru Nashrani dalam perayaan Natal.
– Dan lain-lain.
Bila ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang mengadakan dan merayakan
perayaan seperti Maulid Nabi adalah karena cinta kepada Nabi shallallahu alaihi
wasallam dan mengagungkan beliau, maka kita jawab bahwa para shahabat Nabi
shallallahu alaihi wasallam dan generasi terbaik setelah mereka (generasi Salafus
Shalih) tidak pernah melakukan hal tersebut, padahal mereka adalah orang-orang
yang tidak diragukan kecintaanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan
tidak disangsikan pengagungan mereka kepada beliau, serta mereka adalah orangorang
yang sangat bersemangat untuk melakukan amalan kebajikan. Seandainya
perayaan Maulid itu baik, niscaya mereka adalah orang pertama yang melakukannya.
Dan demikian yang kita katakan terhadap setiap amalan yang diada-adakan dalam
agama ini. Seandainya amalan itu baik maka para pendahulu kita yang shalih
tentunya telah mendahului kita dalam mengamalkannya.
Ketahuilah, pernyataan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukan
diwujudkan dengan mengadakan perayaan seperti Maulid, namun bukti cinta kepada
beliau diwujudkan (dibuktikan) dengan mengikuti beliau, menaati, mengikuti
perintahnya, menghidupkan sunnahnya baik secara lahir maupun batin, menyebarkan
dakwah beliau, berjihad untuk menegakkan dakwah baik dengan hati, lisan, maupun
anggota badan. Inilah jalan yang ditempuh oleh As Sabiqunal Awwaluna dari
kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Jalan Keluar Dari Kebid’ahan
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan dalam banyak haditsnya jalan
keluar dari kebid’ahan jauh sebelum terjadinya bid’ah. Beliau bersabda :
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalau kalian berpegang teguh
dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku selamanya, yaitu
Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Hakim dan dishahihkan dalam Shahihul Jami’
oleh Syaikh Albani rahimahullah)
Beliau juga menasehatkan :
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk takwa kepada Allah Azza wa Jalla, taat dan
mendengar sekalipun kalian dipimpim oleh seorang hamba sahaya karena siapa saja
diantara kalian yang hidup sepeninggalku niscaya dia akan melihat perselisihan yang
banyak. Maka (ketika itu) wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan
sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah dengan gigi
gerahammu dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru karena setiap
yang bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata hadits hasan
shahih)
Satu-satunya jalan menyelamatkan diri dari bid’ah adalah berpegang teguh pada
dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta
Petunjuk Salafus Shalih, pemahaman mereka, manhaj mereka, dan pengamalan
mereka terhadap dua wahyu, karena mereka adalah orang yang paling besar cintanya
kepada Allah dan Rasul-Nya, paling kuat ittiba’-nya, paling dalam ilmunya dan paling
luas pemahamannya terhadap Al Qur’an dan As Sunnah.
Dengan cara ini seorang Muslim akan mampu berpegang teguh dengan agamanya
dan bebas dari segala kotoran yang mencemari dan jauh dari semua kebid’ahan yang
menyesatkan. Dan jalan ini mudah bagi yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Wallahu a’lam bishawwab.

* Penulis adalah staf pengajar Ponpes Ihya’us Sunnah DIY, murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’y
rahimahullah, Yaman.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: